<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947</id><updated>2011-07-08T00:56:41.439-07:00</updated><title type='text'>www.renungan-kita.blogspot.com</title><subtitle type='html'>Renungan untuk kita semua semoga menjadi motivasi dalam menjadikan hidup ini lebih baik.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://renungan-kita.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>43</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-6542580414980179913</id><published>2010-07-21T14:24:00.000-07:00</published><updated>2010-07-21T14:26:23.886-07:00</updated><title type='text'>Dia yang Takkan Pernah Bisa Tergantikan</title><content type='html'>Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam surgawi, baik-baik sajakah? Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan sorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil. Begitulah yang kurasakan, karena selama ini saya merasa bahwa saya telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anak saya, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku harus segera berangkat ke kantor, anak saya masih tertidur. Ohhh… aku harus menyediakan makan untuknya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan. Setelah memberitahu anak saya yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ke tempat kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras. Suatu hari ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, saya langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam. Namun, ketika aku merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan hangat! Aku membuka selimut dan….. di sanalah sumber ‘masalah’nya … sebuah mangkuk yang pecah dengan mie instan yang berantakan di seprai dan selimut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh…Tuhan! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung menghujani anak saya yang sedang gembira bermain dengan mainannya, dengan pukulan-pukulan! Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dad, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie. Satu untuk ayah dan yang satu lagi untuk saya .. Karena aku takut mie’nya akan menjadi dingin, jadi aku menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang. Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain dengan mainan saya … Saya minta maaf Dad … “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku … tetapi, saya tidak ingin anak saya melihat ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangis saya. Setelah beberapa lama, aku hampiri anak saya, memeluknya dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur. Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto mommy yang dikasihinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, saya mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya. Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun… belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, saya benar-benar menyesal….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anak saya absen dari sekolah. Aku pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer game dengan gembira. Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan. Dia diam saja lalu mengatakan, “Aku minta maaf, Dad”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara “pertunjukan bakat” yang diadakan oleh sekolah, karena yg diundang adalah siswa dengan ibunya. Dan itulah alasan ketidakhadirannya karena ia tidak punya ibu…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke rumah memberitahu saya, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis. Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis, yang saya yakin, jika istri saya masih ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuat saya bangga juga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Saat ini musim dingin, dan hari Natal telah tiba. Semangat Natal ada dimana-mana juga di hati setiap orang yg lalu lalang… Lagu-lagu Natal terdengar diseluruh pelosok jalan …. tapi astaga, anakku membuat masalah lagi. Ketika aku sedang menyelasaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menelpon saya dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anak saya telah mengirim beberapa surat tanpa alamat. Walaupun saya sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anak saya lagi, tetapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena saya merasa bahwa anak ini sudah benar-benar keterlaluan. Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf : “Maaf, Dad”. Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alasannya melakukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang. Sesampai di rumah, dengan marah saya mendorong anak saya ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini? Apa yang ada dikepalanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah : “Surat-surat itu untuk mommy…..”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. …. tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus bertanya kepadanya: “Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak surat-surat, pada waktu yg sama?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban anakku itu : “Aku telah menulis surat buat mommy untuk waktu yang lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tidak dapat memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimkannya sekaligus”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengar penjelasannya ini, aku kehilangan kata-kata, aku bingung, tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku katakan ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bilang pada anakku, “Nak, mommy sudah berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk mommy, cukup dengan membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada mommy. Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak. Saya berjanji akan membakar surat-surat atas namanya, jadi saya membawa surat-surat tersebut ke luar, tapi…. saya jadi penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Mommy sayang’,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara ‘Pertunjukan Bakat’ di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut. Tapi kamu tidak ada, jadi saya tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencari saya, setelah menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku, tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mommy, setiap hari saya melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya. Saya pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua, saya rasa. Tapi mom, aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah mommy muncul dalam mimpiku sehingga saya dapat melihat wajahmu dan ingat anda? Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu. Tapi mommy, mengapa engkau tak pernah muncul?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti karena saya tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istri saya ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hargailah keberadaan istri/suami/pacar mu, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu dengan segala kekurangan dan kelebihannya, karena saat engkau telah kehilangan dia, tidak ada emas permata, intan berlian, atau apa pun yg bisa menggantikan posisinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-6542580414980179913?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/6542580414980179913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/6542580414980179913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2010/07/dia-yang-takkan-pernah-bisa-tergantikan.html' title='Dia yang Takkan Pernah Bisa Tergantikan'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-2955255906521072744</id><published>2007-07-27T23:13:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T09:14:16.968-08:00</updated><title type='text'>Sifat Kepiting</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RqrfEvkSZbI/AAAAAAAAAKM/QcIiJp7HquE/s1600-h/kepiting.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RqrfEvkSZbI/AAAAAAAAAKM/QcIiJp7HquE/s320/kepiting.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5092127601276904882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mungkin banyak yang tahu wujud kepiting, tapi tidak banyak yang tahu sifat kepiting. Semoga Anda tidak memiliki sifat kepiting yang dengki. Di Filipina, masyarakat pedesaan gemar sekali menangkap dan memakan kepiting sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepiting itu ukurannya kecil namun rasanya cukup lezat. Kepiting-kepiting itu dengan mudah ditangkap di malam hari, lalu dimasukkan ke dalam baskom/wadah, tanpa diikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokkan harinya, kepiting-kepiting ini akan direbus dan lalu disantap untuk lauk selama beberapa hari. Yang paling menarik dari kebiasaan ini, kepiting-kepiting itu akan selalu berusaha untuk keluar dari baskom, sekuat tenaga mereka, dengan menggunakan capit-capitnya yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun seorang penangkap kepiting yang handal selalu tenang meskipun hasil buruannya selalu berusaha meloloskan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resepnya hanya satu, yaitu si pemburu tahu betul sifat si kepiting.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bila ada seekor kepiting yang hampir meloloskan diri keluar dari baskom, teman-temannya pasti akan menariknya lagi kembali ke dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada lagi yang naik dengan cepat ke mulut baskom, lagi-lagi temannya akan menariknya turun… dan begitu seterusnya sampai akhirnya tidak ada yang berhasil keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya sang pemburu tinggal merebus mereka semua dan matilah sekawanan kepiting yang dengki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dalam kehidupan ini… tanpa sadar kita juga terkadang menjadi seperti kepiting-kepiting itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang seharusnya bergembira jika teman atau saudara kita mengalami kesuksesan kita malahan mencurigai, jangan-jangan kesuksesan itu diraih dengan jalan yang nggak bener.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi di dalam bisnis atau hal lain yang mengandung unsur kompetisi, sifat iri, dengki, atau munafik akan semakin nyata dan kalau tidak segera kita sadari tanpa sadar kita sudah membunuh diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesuksesan akan datang kalau kita bisa menyadari bahwa di dalam bisnis atau persaingan yang penting bukan siapa yang menang, namun terlebih penting dari itu seberapa jauh kita bisa mengembangkan diri kita seutuhnya. Jika kita berkembang, kita mungkin bisa menang atau bisa juga kalah dalam suatu persaingan, namun yang pasti kita menang dalam kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanda seseorang adalah ‘kepiting’:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Selalu mengingat kesalahan pihak luar (bisa orang lain atau situasi) yang sudah lampau dan menjadikannya suatu prinsip/pedoman dalam bertindak&lt;br /&gt;2. Banyak mengkritik tapi tidak ada perubahan&lt;br /&gt;3. Hobi membicarakan kelemahan orang lain tapi tidak mengetahui kelemahan dirinya sendiri sehingga ia hanya sibuk menarik kepiting-kepiting yang akan keluar dari baskom dan melupakan usaha pelolosan dirinya sendiri. ..Seharusnya kepiting-kepiting itu tolong-menolong keluar dari baskom, namun yah… dibutuhkan jiwa yang besar untuk melakukannya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba renungkan berapa waktu yang Anda pakai untuk memikirkan cara-cara menjadi pemenang. Dalam kehidupan sosial, bisnis, sekolah, atau agama. Dan gantilah waktu itu untuk memikirkan cara-cara pengembangan diri Anda menjadi pribadi yang sehat dan sukses.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-2955255906521072744?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/2955255906521072744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/2955255906521072744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/07/sifat-kepiting.html' title='Sifat Kepiting'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RqrfEvkSZbI/AAAAAAAAAKM/QcIiJp7HquE/s72-c/kepiting.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-7606907150147943972</id><published>2007-07-08T22:17:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T09:14:17.179-08:00</updated><title type='text'>Seember Susu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RpHFYGUuP-I/AAAAAAAAAKE/Qv6HBBPBc0Q/s1600-h/embersusu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RpHFYGUuP-I/AAAAAAAAAKE/Qv6HBBPBc0Q/s320/embersusu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5085062472083062754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dua ekor katak berlompatan dengan riangnya di sebuah halaman rerumputan sebuah peternakan sapi. Seorang ibu yang sedang membersihkan halaman kandang yang melihat kedua katak itu berusaha mengusir dengan sebuah gagang sapu dan membuat kedua katak itu lari ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cepat, kearah sana", kata salah seekor katak itu "Saya melihat tempat persembunyian yang baik dan pasti sulit dijangkau oleh gagang sapu itu" kata si katak menunjuk arah kandang sapi perah yang ada didalam peternakan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Ayo, cepat" seru si katak pertama dan keduanya melompat-lompat melompat tinggi, lebih tinggi, semakin tinggi lompatannya dan sangat tinggi kearah pagar kandang menuju tempat dimana mereka akan bersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Plung" pada lompatan terakhir, keduanya serentak mendarat di sebuah ember yang berisi susu segar dan segera mereka berenang ke tepi ember dan berusaha untuk naik keluar dari ember itu sambil sesekali melompat, tapi tidak berhasil. "Oh kawan, habislah kita kali ini, ember aluminium ini sungguh sangat licin, rasanya tidak mungkin memanjatnya, habislah kita kali ini, kita tak bisa kemana-mana lagi, kita akan mati tenggelam disini" kata katak kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Teruslah berusaha, teruslah berenang, teruslah mendayung" kata katak pertama, pasti ada cara untuk bisa keluar dari tempat ini, ayo kita pikirkan, jangan menyerah. Mereka berduapun mendayung dan berenang kesana kemari sambil sesekali melompat berusaha melewati bibir ember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekian jam mereka mendayung katak kedua mulai mengeluh lagi: "Ugh, saya sungguh lelah sekali, saya benar-benar kehabisan tenaga, susu ini kental sekali dan dan terlalu licin untuk keluar dari tempat ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo, teruslah berusaha, jangan menyerah" kata katak pertama memberi semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Percuma saja, kita tidak akan pernah keluar hidup-hidup dari tempat ini, kita pasti mati disini keluhnya makin lemah" dan gerakan katak kedua itu makin lama makin lambat dan akhirnya tidak bergerak lagi, mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu katak pertama tidak putus asa, dengan sisa-sisa tenaganya masih berenang dan terus mendayung sendirian sambil sesekali berpikir untuk menyusul temannya yang tubuhnya kaku setengah tenggelam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamat-lamat terdengar ayam berkokok dan tanpa disadari kaki-kaki katak kedua itu serasa mendapat pijakan, katak itu sudah tidak mendayung lagi karena kakinya terasa berdiri diatas setumpuk mentega hasil karyanya semalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan "plop" katak itupun membuat lompatan terakhir untuk keluar dan bebas dari ember yang mengubur temannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-7606907150147943972?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/7606907150147943972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/7606907150147943972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/07/seember-susu.html' title='Seember Susu'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RpHFYGUuP-I/AAAAAAAAAKE/Qv6HBBPBc0Q/s72-c/embersusu.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-682930337069316631</id><published>2007-06-22T00:55:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T09:14:17.384-08:00</updated><title type='text'>Kisah Karpet</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RnuC1QHB7mI/AAAAAAAAAJ8/J4OeQMT0UMk/s1600-h/carpet.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RnuC1QHB7mI/AAAAAAAAAJ8/J4OeQMT0UMk/s320/carpet.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5078796856159497826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan &amp; kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah tampak selalu rapih, bersih &amp;amp; teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma ada satu masalah, ibu yang pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi terjadi dan menyiksanya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum &amp; berkata kepada sang ibu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan" Ibu itu kemudian menutup matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?" Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yang murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Virginia Satir melanjutkan; "Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, napasnya mengandung isak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu &amp; kotoran di sana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang bukalah mata ibu" Ibu itu membuka matanya&lt;br /&gt;"Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tahu maksud anda" ujar sang ibu, "Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yg dikasihinya ada di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder &amp;amp; John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming). Dan teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita 'membingkai ulang' sudut pandang kita sehingga sesuatu yang tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya BERSYUKUR;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, karena itu artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Untuk Tagihan Pajak yang cukup besar, karena itu artinya saya bekerja dan digaji tinggi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, karena itu artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya cukup makan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu artinya saya masih mampu bekerja keras&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, karena itu artinya masih ada kebebasan berpendapat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya, karena itu artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Untuk dst...&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-682930337069316631?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/682930337069316631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/682930337069316631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/06/kisah-karpet.html' title='Kisah Karpet'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RnuC1QHB7mI/AAAAAAAAAJ8/J4OeQMT0UMk/s72-c/carpet.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-6649778974424562994</id><published>2007-06-15T05:18:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T09:14:17.570-08:00</updated><title type='text'>Belajar Dari Seekor Beruang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RnKEAQHB7lI/AAAAAAAAAJ0/VPZU-Qdu1Ik/s1600-h/beruang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RnKEAQHB7lI/AAAAAAAAAJ0/VPZU-Qdu1Ik/s320/beruang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5076264869859290706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;SEEKOR beruang yang bertubuh besar sedang menunggu seharian dengan sabar di tepi sungai deras. Waktu itu memang tidak sedang musim ikan. Sejak pagi ia berdiri di sana mencoba meraih ikan yang meloncat keluar air. Namun, tak satu juga ikan yang berhasil ia tangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya... hup... ia dapat menangkap seekor ikan kecil. Ikan yang tertangkap menjerit-jerit ketakutan. Si ikan kecil itu meratap pada sang beruang, "Wahai beruang, tolong lepaskan aku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa," tanya sang beruang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Tidakkah kau lihat, aku ini terlalu kecil, bahkan bisa lolos lewat celah-celah gigimu," rintih sang ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu kenapa?" tanya beruang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begini saja, tolong kembalikan aku ke sungai. Setelah beberapa bulan aku akan tumbuh menjadi ikan yang besar. Di saat itu kau bisa menangkapku dan memakanku untuk memenuhi seleramu," kata ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai ikan, kau tahu mengapa aku bisa tumbuh begitu besar?" tanya beruang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa?" ikan balas bertanya sambil menggeleng-geleng kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena aku tak pernah menyerah walau sekecil apa pun keberuntungan yang telah tergenggam di tangan!" jawab beruang sambil tersenyum mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ops!" teriak sang ikan, nyaris tersedak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup, kita diberi banyak pilihan dan kesempatan. Namun jika kita tidak mau membuka hati dan mata kita untuk melihat dan menerima kesempatan yang Tuhan berikan maka kesempatan itu akan hilang begitu saja. Dan hal ini hanya akan menciptakan penyesalan yang tiada guna di kemudian hari, saat kita harus berucap : "Ohhh....Andaikan aku tidak menyia2kan kesempatan itu dulu...?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bijaksanalah pada hidup, hargai setiap detil kesempatan dalam hidup kita. Di saat sulit, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan; di saat sedih, selalu ada kesempatan untuk meraih kembali kebahagiaan; di saat jatuh selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali; dan dalam kesempatan untuk meraih kembali yang terbaik untuk hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita setia pada perkara yang kecil maka kita akan mendapat perkara yang besar. Bila kita menghargai kesempatan yang kecil, maka ia akan menjadi sebuah kesempatan yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-6649778974424562994?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/6649778974424562994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/6649778974424562994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/06/belajar-dari-seekor-beruang.html' title='Belajar Dari Seekor Beruang'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RnKEAQHB7lI/AAAAAAAAAJ0/VPZU-Qdu1Ik/s72-c/beruang.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-7865592498467611800</id><published>2007-06-12T04:58:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T09:14:18.113-08:00</updated><title type='text'>Mengapa Berteriak?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rm6K7QHB7kI/AAAAAAAAAJs/Bi3FyXvoogM/s1600-h/teriak.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rm6K7QHB7kI/AAAAAAAAAJs/Bi3FyXvoogM/s320/teriak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5075146580634496578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya; "Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan  marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab; "Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak." "Tapi..." sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu berkata; "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang guru masih melanjutkan; "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?" Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban. "Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang guru masih melanjutkan; "Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu anda."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-7865592498467611800?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/7865592498467611800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/7865592498467611800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/06/mengapa-berteriak.html' title='Mengapa Berteriak?'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rm6K7QHB7kI/AAAAAAAAAJs/Bi3FyXvoogM/s72-c/teriak.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-7992218086435823323</id><published>2007-06-12T04:54:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T09:14:18.289-08:00</updated><title type='text'>Belajarlah dari Ulat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rm6JwgHB7jI/AAAAAAAAAJk/Iz-luS-sKn0/s1600-h/ulat.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rm6JwgHB7jI/AAAAAAAAAJk/Iz-luS-sKn0/s320/ulat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5075145296439275058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bagi penggemar tanaman atau yang memiliki hobi berkebun, seringkali menemukan binatang yang menjengkelkan, dimana dedaunan muda yang tumbuh segar, menjadi tak beraturan dan bolong-bolong bahkan habis dan tinggal tangkainya saja. Ternyata setelah kita perhatikan ada hewan yang biasanya berwarna hijau, sehijau dedaunan untuk kamuflase, binatang tersebut adalah ulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulat adalah salah satu binatang yang sangat rakus dalam melahap hijaunya dedaunan tanaman yang kita sayangi. Rasa marah yang sangat bila kita jumpai tanaman kesayangan kita telah habis dedaunannya, bahkan hanya tinggal ranting-ranting saja. Sedih dan marah rasanya karena usaha kita terasa terampas begitu saja karena ulah sang ulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibalik kekesalan dan rasa marah, pernahkah kita mencoba untuk melihat atau sedikit tertegun mengernyitkan dahi atas ulah sang ulat tersebut atau sebaliknya kita membunuhnya untuk melampiaskan kekesalan hati, setega itukah?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hasil yang diakibatkan oleh ulah sang ulat memang sangat mengesankan bila dibanding dengan wujud ulat yang lemah dan lunak tubuhnya. Melihat dari akibat yang dihasilkan maka dapat kita katakan bahwa karakter ulat adalah pekerja keras dalam menggunduli dedaunan tanaman kita, seakan-akan mereka seperti dikejar deadline dan harus buru-buru untuk menyelesaikan. Hasilnya sangat mengesalkan sekali buat kita, yaitu tanaman yang gundul dalam waktu yang relatif singkat dan sekali lagi sungguh mengesankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjalani misinya sang ulat tak membiarkan sedikit waktu terbuang. Sang ulat baru berhenti ketika sampai pada saat yang ditentukan dimana ia harus berhenti makan untuk menuju ke dalam kondisi puasa yang keras. Puasa yang sangat ketat tanpa makan tanpa minum sama sekali, dalam lingkupan kepompong yang sempit dan gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa kepompong ini terjadi sebuah peristiwa yang sangat menakjubkan, masa dimana terjadi transformasi dari seekor ulat yang menjijikkan menjadi kupu-kupu yang elok dan indahnya dikagumi manusia. Sang kupu-kupu yang terlahir seakan-akan menjadi makhluk baru yang mempunyai perwujudan dan perilaku yang baru dan sama sekali berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruskah kita membiarkan begitu saja sebuah peristiwa yang sangat indah dan mengesankan ini, tentu tidak. Sebenarnya kita patut malu bila melihat tabiat ulat yang pekerja keras. Ulat seakan tak mempunyai waktu yang terluang dan terbuang sedikitpun. Waktu yang tersedia adalah waktu yang sangat berharga bagi ulat untuk menggemukkan badan sebagai persiapan menuju sebuah keadaan dimana diperlukan energi yang besar yaitu masa kepompong, seakan dikejar-kejar oleh deadline sehingga sang ulat tak pernah beristirahat sejenakpun untuk terus melahap dedaunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpacunya sang ulat dengan waktu, ternyata disebabkan sang ulat telah mempunyai sebuah tujuan yang sangat jernih dan jelas yaitu mengumpulkan semua potensi yang ada untuk menghadapi satu saat yang sangat kritis yaitu masa kepompong, dimana pada masa kepompong tersebut dibutuhkan persiapan yang prima. Datangnya masa kepompong adalah sebuah keniscayaan, maka sang ulat mempersiapkan dengan kerja keras untuk menghadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah persiapan diri dengan kerja keras dilakukan juga pada hewan-hewan yang mengalami musim dingin.Dimana untuk menghadapi masa sulit di musim dingin, banyak hewan yang melakukan hibernasi selama musim dingin di gua-gua atau liang-liang, agar terhindar dari ganasnya musim dingin. Agar tubuh tetap hangat dan tersedianya energi maka sebelum menjelang musim dingin, hewan-hewan tersebut akan menumpuk lemak sebanyak-banyaknya di dalam tubuhnya, untuk dipakai sebagai bekal dalam tidur panjangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu coba kita berkaca dan mereview diri kita, adakah semangat yang luar biasa selayaknya ulat yang telah menggunduli dedaunan, bukankah sebuah masa depan dan tanggung jawab yang begitu beratnya harus kita pikul dan tunaikan. Namun kita terbuai dan masih sering suka bermain-main, selayaknya tertipu oleh permainan yang sangat melenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa-masa dalam kehidupan kita sebagai individu atau kelompok, pasti tak akan pernah luput dari masa yang menyenangkan dan kemudian digantikan masa-masa yang sulit, itu adalah sebuah kepastian, sepasti bergantinya musim hujan disongsong oleh musim kemarau yang memayahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam masa-masa senang satu saat akan berganti menjadi masa yang sulit dan bahkan menjadi sebuah musibah karena mengintai sebuah keterlenaan. Sungguh benar hadist nabi untuk mengambil kesempatan lima sebelum lima: muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, hidup sebelum mati dan senggang sebelum sibuk. Dan bukankah kita telah diwanti-wanti untuk senantiasa mempersiapkan diri dengan apa saja yang kita mampu, untuk menggentarkan hati musuh-musuh kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah kita terlena bahkan kalah dengan hewan yang bernama ulat yang mempunyai etos kerja unggul dan memiliki pola pandang yang jauh ke depan yang meniti masa depan tersebut dengan kerja keras, karena masa depan dengan kesulitan dan cobaan itu pasti akan datang dan menghampiri kita, maka persiapan yang matang dan kerja keras yang mampu menolong kita dan bukan kemalasan dan menunda-nunda pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-7992218086435823323?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/7992218086435823323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/7992218086435823323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/06/belajarlah-dari-ulat.html' title='Belajarlah dari Ulat'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rm6JwgHB7jI/AAAAAAAAAJk/Iz-luS-sKn0/s72-c/ulat.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-6328027335707304329</id><published>2007-06-12T04:52:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T09:14:18.493-08:00</updated><title type='text'>Jujur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rm6JRQHB7iI/AAAAAAAAAJc/NApwMDVEAyU/s1600-h/semirsepatu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rm6JRQHB7iI/AAAAAAAAAJc/NApwMDVEAyU/s320/semirsepatu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5075144759568363042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Siang ini tadi yayangku tiba-tiba nelpon. Makan siang yuk, ajaknya. Oke, jawabku. So she picked me up at the lobby of Jakarta Stock Exchange building. Selepas SCBD, kami masih belum ada ide mau makan dimana. Ide ke soto pak Sadi segera terpatahkan begitu melihat bahwa yang parkir sudah sampai sebrang-sebrang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami memutuskan makan gado-gado di Kertanegara. Bisa makan di mobil soalnya. Sampai di sana masih sepi. Baru ada beberapa mobil. Kami masih bisa milih parkir yang enak. Mungkin karena masih pada jumatan. Begitu parkir, seperti biasa, joki gado-gado sudah menanyakan mau makan apa, minum apa. Kami pesan dua porsi gado-gado + tehbotol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu pesanan, kami pun ngobrol. So, ketika tiba2 ada seorang pemuda lusuh nongol di jendela mobil kami, kami agak kaget. "Semir om?", tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku lirik sepatuku. Ugh, kapan ya terakhir aku nyemir sepatuku sendiri? Aku sendiri lupa. Saking lamanya. Maklum, aku kan karyawan sok sibuk... Tanpa sadar tanganku membuka sepatu dan memberikannya pada dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menerimanya lalu membawanya ke emperan sebuah rumah. Tempat yang terlihat dari tempat kami parkir. Tempat yang cukup teduh. Mungkin supaya nyemirnya nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesanan kami pun datang. Kami makan sambil ngobrol. Sambil memperhatikan pemuda tadi nyemir sepatuku. Pembicaraan pun bergeser ke pemuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umur sekitar 20-an. Terlalu tua untuk jadi penyemir sepatu. Biasanya pemuda umur segitu kalo tidak jadi tukang parkir or jadi kernet, ya jadi pak ogah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan matanya kosong. Absent minded. Seperti orang sedih. Seperti ada yang dipikirkan. Tangannya seperti menyemir secara otomatis. Kadang2 matanya melayang ke arah mobil-mobil yang hendak parkir, (sudah mulai ramai). Lalu pandangannya kembali kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbincangan kami mulai ngelantur kemana-mana. Tentang kira2 umur dia berapa, pagi tadi dia mandi apa enggak, kenapa dia jadi penyemir dll. Kami masih makan saat dia selesai menyemir. Dia menyerahkan sepatunya padaku. Belum lagi dia kubayar, dia bergerak menjauh, menuju mobil-mobil yang parkir sesudah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata kami lekat padanya. Kami melihatnya mendekati sebuah mobil. Menawarkan jasa. Ditolak. Nyengir. Kelihatannya dia memendam kesedihan. Pergi ke mobil satunya. Ditolak lagi. Melangkah lagi dengan gontai ke mobil lainnya. Menawarkan lagi. Ditolak lagi. Dan setiap kali dia ditolak, sepertinya kami juga merasakan penolakan itu. Sepertinya sekarang kami jadi ikut menyelami apa yang dia rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba kami tersadar. Konyol ah. Who said life would be fair anyway. Kenapa jadi kita yang mengharapkan bahwa semua orang harus menyemir ? hihihi... Perbincangan pun bergeser ke topik lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kejauhan aku masih bisa melihat pemuda tadi, masih menenteng kotak semirnya di satu tangan, mendapatkan penolakan dari satu mobil ke mobil lainnya. Bahkan, selain penolakan, di beberapa mobil, dia juga mendapat pandangan curiga. Akhirnya dia kembali ke bawah pohon. Duduk di atas kotak semirnya. Tertunduk lesu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun selesai makan. Ah, iya. Penyemir tadi belum aku bayar. Kulambai dia. Kutarik 2 buah lembaran ribuan dari kantong kemejaku. Uang sisa parkir. Lalu kuberikan kepadanya. Soalnya setahuku jasa nyemir biasanya 2 ribu rp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berkata kalem "Kebanyakan om. Seribu aja". BOOM. Jawaban itu tiba-tiba serasa petir di hatiku. It-just-does-not-compute-with-my-logic! Bayangkan, orang seperti dia masih berani menolak uang yang bukan hak-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih terbengong-bengong waktu nerima uang seribu rp yang dia kembalikan. Se-ri-bu Ru-pi-ah. Bisa buat apa sih sekarang? But, dia merasa cukup dibayar segitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiranku tiba-tiba melayang. Tiba-tiba aku merasa ngeri. Betapa aku masih sedemikian kerdil. Betapa aku masih suka merasa kurang dengan gajiku. Padahal keadaanku sudah -jauh- lebih baik dari dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah sudah sedemikian baik bagiku, tapi perilaku-ku belum seberapa dibandingkan dengan pemuda itu, yang dalam kekurangannya, masih mau memberi, ke aku, yang sudah berkelebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang ini aku merasa mendapat pelajaran berharga. Siang ini aku seperti diingatkan. Bahwa kejujuran itu langka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah kita berani jujur?&lt;br /&gt;Kepada diri sendiri,&lt;br /&gt;kepada orang lain,&lt;br /&gt;dan kepada Allah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-6328027335707304329?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/6328027335707304329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/6328027335707304329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/06/jujur.html' title='Jujur'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rm6JRQHB7iI/AAAAAAAAAJc/NApwMDVEAyU/s72-c/semirsepatu.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-7274448154363365888</id><published>2007-06-11T07:39:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T09:14:18.700-08:00</updated><title type='text'>Ikan dan Kera</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rm1jhgHB7hI/AAAAAAAAAJU/lceNkc_nL0k/s1600-h/monyet.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rm1jhgHB7hI/AAAAAAAAAJU/lceNkc_nL0k/s320/monyet.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5074821782322671122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tersebutlah pada suatu masa hidup 2 makhluk bersahabat, seekor kera dan seekor ikan. Sang kera hidup di atas sebatang pohon yg tumbuh di pinggir sungai - tempat hidup si ikan. Mereka sering meluangkan waktu untuk ngobrol dan bertukar pikiran bersama-sama. Kadangkala kelakar terjadi pula di antara mereka. Sungguh persahabatan yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga pada suatu saat… Kera sedang bertengger di atas dahan tertinggi. Dari sana ia melihat sesuatu di kejauhan. Ya! Banjir bandang di hulu sungai. Dan dengan kecepatan yang tinggi banjir bandang siap segera menerjang ke tempat yang lebih rendah… Tempat tinggal kera dan ikan!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Segera sang kera melompat ke bawah, memanggil sang ikan seraya bekata: “Hoi ikan!! Dimana kau?” “Aku di sini kera”, jawab sang ikan. “Cepat kemari… Banjir bandang melanda dari hulu sungai sana. Cepatlah kau ikut aku. Biar kuselamatkan kau. Akan kuamankan kau bersamaku di puncak dahan tertinggi pohon ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kera…” Jawab sang ikan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah!! Tak ada waktu untuk berdebat! Yang penting kau aman.” Tegas kera sambil segera menyambar sang ikan dari dalam air. Setelah itu segera ia beranjak, melompat ke dahan tertinggi sambil memeluk erat sang ikan sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, datanglah banjir bandang, mendera semua benda di permukaan rendah di seputar sungai. Satu jam lamanya banjir mendera semua wilayah di sekitar sungai. Sampai akhirnya banjir surut. Selama itu pula kera memeluk erat ikan sahabatnya, demi keselamatan sang ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah reda… Sang kera melompat kembali ke bawah, hendak mengembalikan sang ikan ke sungai tempat tinggalnya. Dibukanya tangannya, dan terlihat sang ikan masih tertidur menutup mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai ikan, bangun!” serunya. Tapi ikan diam.. Ikan… Ikan… bangunlah! Banjir bandang sudah berlalu. Ayo melompatlah kau ke sungai, rumahmu”. Tapi ikan tak menyahut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“IKAN!!!… IKAN!!” Kera berseru keras. Tersadarlah ia… Ikan telah mati. Mati akibat pelukannya. Manalah ada ikan biasa yang suka hidup di luar air? Sekalipun banjir bandang melanda, air tetaplah tempat ternyaman bagi ikan. Dan bukan pelukan hangat sang kera di atas dahan yg jauh dari air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang hendak disampaikan sang ikan. Tapi kera tak perduli. Dengan cara pandangnya sendiri, ia hendak menyelamatkan ikan. Namun bukannya selamat, sang ikan malah mati kekeringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali dalam kehidupan ini kita gegabah menentukan sesuatu yang terbaik bagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan orang lain tidaklah sama dengan kehidupan kita. Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik untuk orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencoba menolong oranglain jika dilakukan dengan cara yang salah justru bisa menghancurkan orang yang kita tolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-7274448154363365888?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/7274448154363365888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/7274448154363365888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/06/ikan-dan-kera.html' title='Ikan dan Kera'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rm1jhgHB7hI/AAAAAAAAAJU/lceNkc_nL0k/s72-c/monyet.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-6557292799073142669</id><published>2007-06-04T02:34:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T09:14:18.810-08:00</updated><title type='text'>Berapa Lama?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RmPjUXMp7qI/AAAAAAAAAJE/DKO6JNJCr1c/s1600-h/kuburan.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RmPjUXMp7qI/AAAAAAAAAJE/DKO6JNJCr1c/s320/kuburan.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5072147544313294498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet.&lt;br /&gt;Baju merahnya yang Kebesaran melambai Lambai di tiup angin. Tangan Kanannya memegang Es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram Ikatan sabuk celana ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yani Dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, Berputar sejenak ke kanan &amp;amp; Kemudian duduk Di atas seonggok nisan&lt;br /&gt;"Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1915:20- 01-1965"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo'a untuk nenekmu" Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya Yang mengangkat ke atas Dan ikut memejamkan Mata Seperti Ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo'a untuk Neneknya...&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya Yah." Ayahnya mengangguk sembari tersenyum Sembari memandang pusara Ibu-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya yah..." Kata Yani berlagak sambil matanya menerawang Dan Jarinya berhitung. "Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 42 tahun ... "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak Kuburan di sana. Di samping kuburan neneknya Ada Kuburan tua berlumut&lt;br /&gt;"Muhammad Zaini: 19-02-1882 : 30-01-1910"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun Yang lalu ya yah" jarinya menunjuk nisan disamping Kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memangnya kenapa ndhuk ?" kata sang ayah menatap Teduh Mata anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau Kita mati, lalu di kubur Dan Kita banyak dosanya, Kita akan disiksa di neraka" kata Yani sambil meminta Persetujuan ayahnya. "Iya kan yah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya tersenyum, "Lalu?" "Iya .. Kalau nenek banyak Dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun dong yah Di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun nenek senang di kubur .... Ya nggak yah?" Mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada Ayahnya pendapatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya Berkerut, tampaknya cemas ..... "Iya nak, kamu pintar," kata ayahnya pendek.&lt;br /&gt;Pulang dari Pemakaman, ayah Yani tampak gelisah Di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan Anaknya ... 42 tahun ... Hingga&lt;br /&gt;sekarang...kalau kiamat Datang 100 tahun lagi ....142 tahun disiksa ..Atau bahagia Di kubur .... Lalu IA menunduk ... Meneteskan air Mata ...&lt;br /&gt;Kalau Ia meninggal .. Lalu banyak dosanya ...lalu kiamat Masih 1000 tahun lagi berarti IA akan disiksa 1000 tahun?&lt;br /&gt;Innalillaahi WA inna ilaihi rooji'un ... Air matanya semakin banyak Menetes.....&lt;br /&gt;Sanggupkah IA selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan ..kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu IA akan disiksa di kubur ..Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi? Tahankah? Padahal melihat adegan preman dipukuli Massa ditelevisi kemarin Ia Sudah tak tahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah ...IA semakin menunduk .. Tangannya Terangkat keatas..bahunya naik Turun tak teratur....&lt;br /&gt;Air matanya semakin Membanjiri jenggotnya .....Allahumma as aluka khusnul khootimah berulang Kali di bacanya DOA itu&lt;br /&gt;Hingga suaranya serak ...Dan IA berhenti sejenak Ketika Terdengar batuk Yani.&lt;br /&gt;Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan Bambu... Dibetulkannya Selimutnya.&lt;br /&gt;Yani terus Tertidur.... tanpa tahu, Betapa sang bapak sangat Berterima kasih padanya karena telah Menyadarkannya ..&lt;br /&gt;Arti Sebuah Kehidupan... Dan apa yang akan datang di Depannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-6557292799073142669?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/6557292799073142669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/6557292799073142669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/06/berapa-lama.html' title='Berapa Lama?'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RmPjUXMp7qI/AAAAAAAAAJE/DKO6JNJCr1c/s72-c/kuburan.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-5948031034346029587</id><published>2007-05-23T02:53:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T09:14:18.988-08:00</updated><title type='text'>Belajar dari Keledai</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RlQQuMqd_QI/AAAAAAAAAI8/088LHbcuLgI/s1600-h/keledai.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RlQQuMqd_QI/AAAAAAAAAI8/088LHbcuLgI/s320/keledai.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5067693866558029058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh kedalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, sementara sipetani memikirkan apa yang harus dilakuaknnya. Akhirnya, ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur itu perlu ditimbun(ditutup karena berbahaya), jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Ia mengajak tetangga - tetangganyauntuk datang membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah kedalam sumur.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya ,ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian.tetapi kemudian,semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. setelah beberapa sekop tanah dituangkan kedalam sumur, sipetani melihat kedalam sumur dan tercengang atas apa yang dilihatnya. Walaupun punggungnya yang terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, sikeledai melakukan sesuatu yang menabjubka. ia menguncang - guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun kebawah,lalu menaiki tanah itu. sementara tetangga -tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu. si keledai terus menguncangkan badannya dan melangkah naik. segera saja,semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan terus saja menuangkan segala macam tanah dan kotoran kepadamu. cara untuk keluar dari sumur(kesedihan , masalah , beban pikiran) adalah dengan mengguncangkan hal - hal tersebut sebagai pijakan. setiap masalah dalam hidup kita merupakan batu pijakan untuk melangkah. kita dapat keluar dari sumur yang terdalam dengan terus berjuang.&lt;br /&gt;Jangan pernah menyerah!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-5948031034346029587?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/5948031034346029587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/5948031034346029587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/05/belajar-dari-keledai.html' title='Belajar dari Keledai'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RlQQuMqd_QI/AAAAAAAAAI8/088LHbcuLgI/s72-c/keledai.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-2086431632018041892</id><published>2007-05-17T00:33:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T09:14:19.218-08:00</updated><title type='text'>Belajar Cinta dari Cicak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RkwFqsqd_PI/AAAAAAAAAI0/g2Z_RHftIEs/s1600-h/cicak.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RkwFqsqd_PI/AAAAAAAAAI0/g2Z_RHftIEs/s320/cicak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5065429911986896114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba merontokan tembok. Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong di antara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan seekor cicak terperangkap diantara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah surat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek surat itu, ternyata surat tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun. Apa yang terjadi? Bagaimana cicak itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun? Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikit pun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Orang itu lalu berpikir, bagaimana cicak itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada surat itu! Bagaimana dia makan? Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan cicak itu. Apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan. Kemudian, tidak tahu dari mana datangnya, seekor cicak lain muncul dengan makanan di mulutnya.... AHHHH! Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor cicak lain yang selalu memperhatikan cicak yang terperangkap itu selama 10 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh ini sebuah cinta, cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor cicak itu. apa yang dapat dilakukan oleh cinta? Tentu saja sebuah keajaiban. Bayangkan, cicak itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama 10 tahun. Bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat memiliki karunia yang begitu menganggumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan Pernah mengabaikan orang yang anda cintai!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-2086431632018041892?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/2086431632018041892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/2086431632018041892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/05/belajar-cinta-dari-cicak.html' title='Belajar Cinta dari Cicak'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RkwFqsqd_PI/AAAAAAAAAI0/g2Z_RHftIEs/s72-c/cicak.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-120991251725895166</id><published>2007-05-14T07:22:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T09:14:19.827-08:00</updated><title type='text'>Mengalir Seperti Air</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rkh2SvvUB7I/AAAAAAAAAIs/GGL4U9kL0n8/s1600-h/air.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rkh2SvvUB7I/AAAAAAAAAIs/GGL4U9kL0n8/s320/air.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5064427845402757042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Seorang pria mendatangi Sang Guru, "Guru, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Guru tersenyum, "Oh, kamu sakit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan, "Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, 'Alergi Hidup'. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga,bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku." demikian sang Guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup." pria itu menolak tawaran sang guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, memang saya sudah bosan hidup."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jamdelapan malam kau akan mati dengan tenang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giliran dia menjadi bingung. Setiap Guru yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanyadengan senang hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut "obat" oleh Guru edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai banget! Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, "Sayang, aku mencintaimu. "Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat keluar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untukmelakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang istripun merasa aneh sekali, "Sayang, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, sayang." Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Boss kita kok aneh ya?" Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya. Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, "Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu." Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Pi, maafkan kami semua. Selama ini, Papi selalu stres karena perilaku kami." Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi, "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh, Apa bila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan." Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-120991251725895166?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/120991251725895166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/120991251725895166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/05/mengalir-seperti-air.html' title='Mengalir Seperti Air'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rkh2SvvUB7I/AAAAAAAAAIs/GGL4U9kL0n8/s72-c/air.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-5907114334257168387</id><published>2007-05-14T03:52:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T09:14:20.247-08:00</updated><title type='text'>Kisah Sehelai Daun</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RkhBBvvUB6I/AAAAAAAAAIk/_XVRR-m75-M/s1600-h/pohon.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RkhBBvvUB6I/AAAAAAAAAIk/_XVRR-m75-M/s320/pohon.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5064369279228708770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pada sebatang pohon kecil, hiduplah beberapa daun yang tumbuh bersama. Diantara daun-daun tersebut terdapat sebuah daun yang sangat besar dan kuat. Daun itu diagung-agungkan karena kekuatannya. Dialah yang dianggap pelindung bagi daun-daun lainnya dari badai, hujan, panas matahari yang terik, dan bahaya lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika datanglah musim kemarau yang panjang. Daun-daun di pohon kecil itu mulai layu karena tidak mendapat air dan makanan. Daun besar yang tadinya kuat dan besar mulai terlihat keriput. Ia berusaha melindungi daun-daun lainnya dari matahari yang bersinar sangat terik sehingga daun2 sahabatnya itu tidak kehilangan air lebih banyak lagi. Hari berganti hari, daun besar itu sudah sampai pada puncak usahanya. Ia mulai sobek-sobek sehingga sinar matahari mulai menembusnya. Ia mulai kehilangan kekuatannya dan daun-daun lainnya pun sudah mulai mengabaikannya karena ia tidak kuat lagi seperti dulu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian daun besar itu merasa tidak kuat lagi akhirnya ia berkata kepada teman-temannya : Teman-teman aku tidak lagi mempunyai kekuatan untuk melindungi kalian, aku akan gugur. Selamat tinggal. Setelah berkata demikian akhirnya daun besar itu pun gugurlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim kemarau terus berlanjut, daun-daun di pohon kecil itu saling bertahan untuk hidup. Mereka sama sekali sudah melupakan daun besar yang telah berjasa melindungi mereka sehingga mereka dapat bertahan sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim kemarau tidak juga berakhir. Daun-daun di pohon kecil itu sudah mulai kehilangan harapan. Mereka merasa sangat kelaparan, kehausan dan akan mati. Di saat mereka putus asa, tiba tiba dirasakan adanya air dan makanan dari tanah. Mereka terheran-heran akan adanya keajaiban itu. Setelah lama mencari-cari, mereka menyadarinya. Mereka melihat bahwa daun besar itu sudah membusuk dan menghasilkan air dan sari makanan bagi mereka. Akhirnya dengan air dan sari makanan dari daun besar tadi, daun daun di pohon kecil itu berhasil bertahan sampai musim hujan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daun-daun di pohon kecil itu sangat menyesal karena telah melupakan daun besar itu. Padahal sampai akhir hayatnya daun besar itu tetap menjadi pahlawan bagi daun-daun lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan bagi kita, Janganlah menilai seseorang dengan penampilan dan kekuatannya. Allah memberikan bantuan kepada kita melalui siapa saja bahkan melalui orang yang kita anggap telah jatuh dan hina. Ingatlah rencana Allah itu ajaib dan tidak pandang bulu terhadap semua hambanya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-5907114334257168387?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/5907114334257168387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/5907114334257168387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/05/kisah-sehelai-daun.html' title='Kisah Sehelai Daun'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RkhBBvvUB6I/AAAAAAAAAIk/_XVRR-m75-M/s72-c/pohon.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-5663066223040227460</id><published>2007-05-09T06:11:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T09:14:20.676-08:00</updated><title type='text'>Menulis Di Atas Pasir</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RkHJFPvUB5I/AAAAAAAAAIc/djqK2B9abl8/s1600-h/pasir.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RkHJFPvUB5I/AAAAAAAAAIc/djqK2B9abl8/s320/pasir.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5062548548102653842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Ditengah perjalanan, mereka bertengkar dan salah seorang tanpa dapat menahan diri menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Ini, Sahabat Terbaik Ku Menampar Pipiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang untuk menyejukkan galaunya. Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Namun, ternyata oasis tersebut cukup dalam sehingga ia nyaris tenggelam, dan diselamatkanlah ia oleh sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Ini, Sahabat Terbaik Ku Menyelamatkan Nyawaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si penolong yang pernah menampar sahabatnya tersebut bertanya,Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu? Temannya sambil tersenyum menjawab,Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya diatas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila dalam antara sahabat terjadi sesuatu kebajikan sekecil apa pun, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tetap terkenang tidak hilang tertiup waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita belajar menulis diatas pasir!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-5663066223040227460?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/5663066223040227460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/5663066223040227460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/05/menulis-di-atas-pasir.html' title='Menulis Di Atas Pasir'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RkHJFPvUB5I/AAAAAAAAAIc/djqK2B9abl8/s72-c/pasir.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-2682324520384317015</id><published>2007-05-02T07:40:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T09:14:20.889-08:00</updated><title type='text'>Wanita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RjilKfvUB4I/AAAAAAAAAIU/HEdTU7fpVXc/s1600-h/wanita.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RjilKfvUB4I/AAAAAAAAAIU/HEdTU7fpVXc/s320/wanita.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5059975781087971202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Wanita tercipta dari tulang rusuk lelaki&lt;br /&gt;Ia bukan tercipta dari tulang kepala&lt;br /&gt;Sehingga bukan untuk menjadi pemimpin dari lelaki&lt;br /&gt;Juga bukan tercipta dari tulang kaki&lt;br /&gt;Sehingga bukan untuk diinjak-injak harga dirinya&lt;br /&gt;Namun tercipta dari tulang rusuk yang dekat dengan tangan agar ia dilindungi&lt;br /&gt;Dan tercipta dari tulang rusuk yang dekat dengan hati agar ia dekat dihati&lt;br /&gt;dan dicintai&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-2682324520384317015?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/2682324520384317015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/2682324520384317015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/05/wanita.html' title='Wanita'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RjilKfvUB4I/AAAAAAAAAIU/HEdTU7fpVXc/s72-c/wanita.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-3192522768378425389</id><published>2007-04-30T04:06:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T09:14:21.107-08:00</updated><title type='text'>Teriak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RjXQePvUBxI/AAAAAAAAAHc/k6wdp8hk0GU/s1600-h/Teriak.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RjXQePvUBxI/AAAAAAAAAHc/k6wdp8hk0GU/s320/Teriak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5059178974460249874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Suatu ketika di sebuah sekolah, diadakan pementasan drama. Pentas drama yang meriah, dengan pemain yang semuanya siswa-siswi disana. Setiap anak mendapat peran, dan memakai kostum sesuai dengan tokoh yang diperankannya. Semuanya tampak serius, sebab Pak Guru akan memberikan hadiah kepada anak yang tampil terbaik dalam pentas. Sementara di depan panggung, semua orangtua murid ikut hadir dan menyemarakkan acara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakon drama berjalan dengan sempurna. Semua anak tampil dengan maksimal. Ada yang berperan sebagai petani, lengkap dengan cangkul dan topinya, ada juga yang menjadi nelayan, dengan jala yang disampirkan di bahu. Di sudut sana, tampak pula seorang anak dengan raut muka ketus, sebab dia kebagian peran pak tua yang pemarah, sementara di sudut lain, terlihat anak dengan wajah sedih, layaknya pemurung yang selalu menangis. Tepuk tangan dari para orangtua dan guru kerap terdengar, di sisi kiri dan kanan panggung.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tibalah kini akhir dari pementasan drama. Dan itu berarti, sudah saatnya Pak Guru mengumumkan siapa yang berhak mendapat hadiah. Setiap anak tampak berdebar dalam hati, berharap mereka terpilih menjadi pemain drama yang terbaik. Dalam komat-kamit mereka berdoa, supaya Pak Guru akan menyebutkan nama mereka, dan mengundang ke atas panggung untuk menerima hadiah. Para orangtua pun ikut berdoa, membayangkan anak mereka menjadi yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Guru telah menaiki panggung, dan tak lama kemudian ia menyebutkan sebuah nama. Ahha...ternyata, anak yang menjadi pak tua pemarah lah yang menjadi juara. Dengan wajah berbinar, sang anak bersorak gembira. "Aku menang...", begitu ucapnya. Ia pun bergegas menuju panggung, diiringi kedua orangtuanya yang tampak bangga. Tepuk tangan terdengar lagi. Sang orangtua menatap sekeliling, menatap ke seluruh hadirin. Mereka bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Guru menyambut mereka. Sebelum menyerahkan hadiah, ia sedikit bertanya kepada sang "jagoan, "Nak, kamu memang hebat. Kamu pantas mendapatkannya. Peranmu sebagai seorang yang pemarah terlihat bagus sekali. Apa rahasianya ya, sehingga kamu bisa tampil sebaik ini? Kamu pasti rajin mengikuti latihan, tak heran jika kamu terpilih menjadi yang terbaik.." tanya Pak Guru, "Coba kamu ceritakan kepada kami semua, apa yang bisa membuat kamu seperti ini..".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang anak menjawab, "Terima kasih atas hadiahnya Pak. Dan sebenarnya saya harus berterima kasih kepada Ayah saya dirumah. Karena, dari Ayah lah saya belajar berteriak dan menjadi pemarah. Kepada Ayah lah saya meniru perilaku ini. Ayah sering berteriak kepada saya, maka, bukan hal yang sulit untuk menjadi pemarah seperti Ayah." Tampak sang Ayah yang mulai tercenung. Sang anak mulai melanjutkan, "..Ayah membesarkan saya dengan cara seperti ini, jadi peran ini, adalah peran yang mudah buat saya..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyap. Usai bibir anak itu terkatup, keadaan tambah senyap. Begitupun kedua orangtua sang anak di atas panggung, mereka tampak tertunduk. Jika sebelumnnya mereka merasa bangga, kini keadaannya berubah. Seakan, mereka berdiri sebagai terdakwa, di muka pengadilan. Mereka belajar sesuatu hari itu. Ada yang perlu diluruskan dalam perilaku mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman, setiap anak, adalah duplikat dari orang di sekitarnya. Setiap anak adalah peniru, dan mereka belajar untuk menjadi salah satu dari kita. Mereka akan belajar untuk menjadikan kita sebagai contoh, sebagai panutan dalam bertindak dan berperilaku. Mereka juga akan hadir sebagai sosok-sosok cermin bagi kita, tempat kita bisa berkaca pada semua hal yang kita lakukan. Mereka laksana air telaga yang merefleksikan bayangan kita saat kita menatap dalam hamparan perilaku yang mereka perbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayang, cermin itu meniru pada semua hal. Baik, buruk, terpuji ataupun tercela, di munculkan dengan sangat nyata bagi kita yang berkaca. Cermin itu juga menjadi bayangan apapun yang ada di depannya. Telaga itu adalah juga pancaran sejati terhadap setiap benda di depannya. Kita tentu tak bisa, memecahkan cermin atau mengoyak ketenangan telaga itu, saat melihat gambaran yang buruk. Sebab, bukankah itu sama artinya dengan menuding diri kita sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman, saya ingin berpesan kepada kita semua, "berteriaklah kepada anak-anak kita saat kita marah, maka, kita akan membesarkan seorang pemarah. Bermuka ketuslah kepada mereka saat kita marah, maka kita akan membesarkan seorang pembenci, dan biarkanlah mulut dan tangan kita yang bekerja saat kita marah, maka kita akan belajar menciptakan seorang yang penuh dengki..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran apakah yang sedang kita ajarkan kepada anak-anak kita saat ini? Contoh apakah yang sedang kita berikan kali ini? Dan panutan apakah yang sedang kita tampilkan? Teman, percayalah, mereka akan selalu belajar dari kita, dari orang yang terdekatnya, dari orang yang mencintainya. Merekalah lingkaran terdekat kita, tempat mereka belajar, menerima kasih sayang, dan juga tempat mereka meniru dalam berperilaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berharap, bisa menjadi orang yang sabar saat melihat seorang anak menumpahkan air di gelas yang mereka pegang.  Saya berharap menjadi orang yang ikhlas, saat melihat mereka memecahkan piring makan mereka sendiri. Sebab, bukankah mereka baru "belajar" memegang gelas dan piring itu selama 5 tahun, sedangkan kita telah mengenalnya sejak lebih 20 tahun? Tentu mereka akan butuh waktu untuk bisa seperti kita. Teman, terima kasih telah membaca. Hope you are well and please do take care.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Irfan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-3192522768378425389?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/3192522768378425389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/3192522768378425389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/04/teriak.html' title='Teriak'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RjXQePvUBxI/AAAAAAAAAHc/k6wdp8hk0GU/s72-c/Teriak.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-2669857878234679644</id><published>2007-04-17T04:08:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T09:14:21.371-08:00</updated><title type='text'>Kasih Seorang Ayah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RiSrjjoN8dI/AAAAAAAAAHU/2IujdF-XU64/s1600-h/orangtua.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RiSrjjoN8dI/AAAAAAAAAHU/2IujdF-XU64/s320/orangtua.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5054353309164237266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sejak kuliah, radio merupakan salah satu teman yang selalu menemani saya ketika sedang mengerjakan tugas, belajar, maupun santai. Tidak pernah bosan rasanya mendengarkan acara-acara yang disajikan oleh berbagai macam stasiun radio. Suatu malam, di sebuah stasiun radio, sedang berlangsung acara dimana orang-orang berbagi pengalaman hidup mereka. Perhatian saya yang semula tercurah pada tugas-tugas kantor beralih ketika seorang wanita bercerita tentang ayahnya. Wanita ini adalah anak tunggal dari sebuah keluarga sederhana yang tinggal di pinggiran kota Jakarta. Sejak kecil ia sering dimarahi oleh ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di mata sang ayah, tak satupun yang dikerjakan olehnya benar. Setiap hari ia berusaha keras untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan ayahnya, namun tetap saja hanya ketidakpuasan sang ayah yang ia dapatkan. Pada waktu ia berumur 17 tahun, tak sepatah ucapan selamat pun yang keluar dari mulut ayahnya. Hal ini membuat wanita itu semakin membenci ayahnya. Sosok ayah yang melekat dalam dirinya adalah sosok yang pemarah dan tidak memperhatikan dirinya. Akhirnya ia memberontak dan tak pernah satu hari pun ia lewati tanpa bertengkar dengan ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari setelah ulang tahun yang ke-17, ayah wanita itu meninggal dunia akibat penyakit kanker yang tak pernah ia ceritakan kepada siapapun kecuali pada istrinya. Walaupun merasa sedih dan kehilangan, namun di dalam diri wanita itu masih tersimpan rasa benci terhadap ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari ketika membantu ibunya membereskan barang-barang peninggalan almarhum, ia menemukan sebuah bingkisan yang dibungkus dengan rapi dan di atasnya tertulis "Untuk Anakku Tersayang". Dengan hati-hati diambilnya bingkisan tersebut dan mulai membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan dan sebuah buku yang telah lama ia idam-idamkan. Di samping kedua benda itu, terdapat sebuah kartu ucapan berwarna merah muda, warna kesukaannya. Perlahan ia membuka kartu tersebut dan mulai membaca tulisan yang ada di dalamnya, yang ia kenali betul sebagai tulisan tangan ayahnya. "Ya Tuhan, Terima kasih karena Engkau mempercayai diriku yang rendah ini Untuk memperoleh karunia terbesar dalam hidupku. Kumohon Ya Tuhan, Jadikan buah kasih hambaMu ini Orang yang berarti bagi sesamanya dan bagiMu. Jangan kau berikan jalan yang lurus dan luas membentang. Berikan pula jalan yang penuh liku dan duri Agar ia dapat meresapi kehidupan dengan seutuhnya. Sekali lagi kumohon Ya Tuhan, Sertailah anakku dalam setiap langkah yang ia tempuh. Jadikan ia sesuai dengan kehendakMu Selamat ulang tahun anakku, Doa ayah selalu menyertaimu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meledaklah tangis sang anak usai membaca tulisan yang terdapat dalam kartu tersebut. Ibunya menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi. Dalam pelukan ibunya, ia menceritakan semua tentang bingkisan dan tulisan yang terdapat dalam kartu ulang tahunnya. Ibu wanita itu akhirnya menceritakan bahwa ayah memang sengaja merahasiakan penyakitnya dan mendidik anaknya dengan keras agar sang anak menjadi wanita yang kuat, tegar dan tidak terlalu kehilangan sosok ayahnya ketika ajal menjemput akibat penyakit yang diderita...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir acara, wanita itu mengingatkan para pemirsa agar tidak selalu melihat apa yang kita lihat dengan kedua mata kita. Lihatlah juga segala sesuatu dengan mata hati kita. Apa yang kita lihat dengan kedua mata kita terkadang tidak sepenuhnya seperti apa yang sebenarnya terjadi. "Kasih seorang ayah, seorang ibu, saudara-saudara, orang-orang di sekitar kita, dan terutama kasih Tuhan dilimpahkan pada kita dengan berbagai cara. Sekarang tinggal bagaimana kita menerima, menyerap, mengartikan dan membalas kasih sayang itu", kata wanita tersebut menutup acara pada malam hari itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-2669857878234679644?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/2669857878234679644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/2669857878234679644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/04/kasih-seorang-ayah.html' title='Kasih Seorang Ayah'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RiSrjjoN8dI/AAAAAAAAAHU/2IujdF-XU64/s72-c/orangtua.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-328176028172305845</id><published>2007-04-16T02:32:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T09:14:21.548-08:00</updated><title type='text'>Rumah Seribu Cermin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RiNE7joN8cI/AAAAAAAAAHM/6KD7H68b6tU/s1600-h/cermin.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RiNE7joN8cI/AAAAAAAAAHM/6KD7H68b6tU/s320/cermin.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5053958996806726082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dahulu, di sebuah desa kecil yang terpencil, ada sebuah rumah yang dikenal dengan nama "Rumah Seribu Cermin." Suatu hari seekor anjing kecil sedang berjalan-jalan di desa itu dan melintasi "Rumah Seribu Cermin". Ia tertarik pada rumah itu dan memutuskan untuk masuk melihat-lihat apa yang ada di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil melompat-lompat ceria ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu depan. Telinga terangkat tinggi-tinggi. Ekornya bergerak-gerak secepat mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa terkejutnya ia ketika masuk ke dalam rumah, ia melihat ada seribu wajah ceria anjing-anjing kecil dengan ekor yang bergerak-gerak cepat. Ia tersenyum lebar, dan seribu wajah anjing kecil itu juga membalas dengan senyum lebar, hangat dan bersahabat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia meninggalkan rumah itu, ia berkata pada dirinya sendiri, "Tempat ini sangat menyenangkan. Suatu saat saya akan kembali mengunjunginya sesering mungkin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat setelah anjing itu pergi, datanglah anjing kecil yang lain. Namun, anjing yang satu ini tidak seceria anjing yang sebelumnya. Ia juga memasuki rumah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perlahan ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu. Ketika berada di dalam, ia terkejut melihat ada seribu wajah anjing kecil yang muram dan tidak bersahabat. Segera saja ia menyalak keras-keras, dan dibalas juga dengan seribu gonggongan yang menyeramkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia merasa ketakutan dan keluar dari rumah sambil berkata pada dirinya sendiri, "Tempat ini sungguh menakutkan, saya takkan pernah mau kembali ke sini lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali gambaran atau kesan tentang wajah yang ada di dunia ini, yang kita lihat ... adalah cermin gambaran dan kesan dari wajah kita sendiri. Kalau kita mengesankan keramahan, maka dunia akan tampak ramah... Kalau dunia terasa suram, mungkin itu karena kesan yang kita berikan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, wajah bagaimanakah yang tampak pada orang-orang yang kita jumpai? Yang terlihat itu adalah gambaran wajah kita di mata orang lain ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-328176028172305845?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/328176028172305845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/328176028172305845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/04/rumah-seribu-cermin.html' title='Rumah Seribu Cermin'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RiNE7joN8cI/AAAAAAAAAHM/6KD7H68b6tU/s72-c/cermin.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-6745558415452899864</id><published>2007-04-16T01:46:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T09:14:21.647-08:00</updated><title type='text'>Lepaskan Kepalanmu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RiM4_zoN8bI/AAAAAAAAAHE/E5dp8Y0RV8U/s1600-h/kacangtanah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RiM4_zoN8bI/AAAAAAAAAHE/E5dp8Y0RV8U/s320/kacangtanah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5053945875681636786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di suatu hutan hiduplah sekelompok monyet. Pada suatu hari, tatkala mereka tengah bermain, tampak oleh mereka sebuah toples kaca berleher panjang dan sempit yang bagian bawahnya tertanam di tanah. Di dasar toples itu ada kacang yang sudah dibubuhi dengan aroma yang disukai monyet. Rupanya toples itu adalah perangkap yang ditaruh di sana oleh seorang pemburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seekor monyet muda mendekat dan memasukkan tangannya ke dalam toples untuk mengambil kacang-kacang tersebut. Akan tetapi tangannya yang terkepal menggenggam kacang tidak dapat dikeluarkan dari sana karena kepalan tangannya lebih besar daripada ukuran leher toples itu. Monyet ini meronta-ronta untuk mengeluarkan tangannya itu, namun tetap saja gagal. Seekor monyet tua menasihati monyet muda itu: "Lepaskanlah kepalanmu atas kacang-kacang itu! Engkau akan bebas dengan mudah!" Namun monyet muda itu tidak mengindahkan anjuran tersebut, tetap saja ia bersikeras menggenggam kacang itu. Beberapa saat kemudian, sang pemburu datang dari kejauhan. Sang monyet tua kembali meneriakkan nasihatnya: "Lepaskanlah kepalanmu sekarang juga agar engkau bebas!" Monyet muda itu ketakutan, namun tetap saja ia bersikeras untuk mengambil kacang itu. Akhirnya, ia tertangkap oleh sang pemburu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, kadang kita juga sering mencengkeram dan tidak rela melepaskan hal-hal yang sepatutnya kita lepaskan: kemarahan, kebencian, iri hati, ketamakan, dan sebagainya. Apabila kita tetap tak bersedia melepas, tatkala kematian datang "menangkap" kita, semuanya akan terlambat sudah. Bukankah lebih mudah jika kita melepaskan setiap masalah yang lampau, dan menatap hari esok dengan lebih cerah? Bukankah dunia akan menjadi lebih indah jika kita bisa melepaskan "kepalan" kita dan membagi kebahagiaan dengan orang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-6745558415452899864?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/6745558415452899864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/6745558415452899864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/04/lepaskan-kepalanmu.html' title='Lepaskan Kepalanmu'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RiM4_zoN8bI/AAAAAAAAAHE/E5dp8Y0RV8U/s72-c/kacangtanah.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-1451672698710071463</id><published>2007-04-04T03:53:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T09:14:21.783-08:00</updated><title type='text'>Jangan Mengeluh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQlPkZAuMI/AAAAAAAAABU/0Hj2DLrF8yw/s1600-h/merenung.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQlPkZAuMI/AAAAAAAAABU/0Hj2DLrF8yw/s320/merenung.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5027184033449162946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita. Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, "Lulu, Lulu.". Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, "Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu." Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, "Lulu, Lulu". "Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?" tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, "Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki.&lt;br /&gt;Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita terakhir adalah mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, "Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat,saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-1451672698710071463?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/1451672698710071463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/1451672698710071463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/04/jangan-mengeluh.html' title='Jangan Mengeluh'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQlPkZAuMI/AAAAAAAAABU/0Hj2DLrF8yw/s72-c/merenung.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-6583001402762705608</id><published>2007-04-01T23:37:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T09:14:21.940-08:00</updated><title type='text'>Catatan Harian Seorang Pramugari</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RhCk6Ez1THI/AAAAAAAAAGs/o3qi9_1Wqfc/s1600-h/china_airlines.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RhCk6Ez1THI/AAAAAAAAAGs/o3qi9_1Wqfc/s320/china_airlines.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5048716499912838258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap hari hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking, penumpang sangat penuh pada hari ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya, pada saat itu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketika melewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakan karung tua diatas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkannya duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia mejawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia takut apakah dipesawat boleh bergerak sembarangan, takut merusak barang didalam pesawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang disebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakan segelas minuman teh dimeja dia, ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah, kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan  kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minunam kepada penjual makanan dipinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat tiga di Peking. anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali ke desa, sekali ini orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking, anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama-sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati-hati dia meletakan karung tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil? dan meminta saya meletakan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimata seorang desa menjadi begitu berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri, perbuatan yang tulus tersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami di  desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak, hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seseorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpang sudah saya jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya dimasa datang yaitu jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber Dajiyuan)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-6583001402762705608?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/6583001402762705608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/6583001402762705608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/04/catatan-harian-seorang-pramugari.html' title='Catatan Harian Seorang Pramugari'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RhCk6Ez1THI/AAAAAAAAAGs/o3qi9_1Wqfc/s72-c/china_airlines.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-3343487111862455676</id><published>2007-03-29T01:33:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T09:14:22.246-08:00</updated><title type='text'>Berbagi Cinta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rgt8Ukz1TFI/AAAAAAAAAGY/NnQ6aSYiVI8/s1600-h/nangis.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rgt8Ukz1TFI/AAAAAAAAAGY/NnQ6aSYiVI8/s320/nangis.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5047264500319079506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bila ada ajakan untuk berbagi, apa yang ada di pikiran anda? Berbagi dana, pakaian layak pakai, sembako, susu, makanan atau bentuk material lainnya. Jawaban itu boleh jadi karena pengaruh ide materilistik yang telah mengglobal. Mengukur segala sesuatunya dengan ukuran yang bersifat material dan kasat mata. Pengalaman nyata dari ayah angkat saya mungkin bisa menjadi pelajaran bahwa berbagi tidaklah mesti berbentuk material.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tahun, ayah angkat saya punya kebiasan berkeliling ke berbagai panti asuhan dan rumah anak yatim. Kunjungan biasanya dilakukan dua kali. Awal bulan Ramadhan dan akhir bulan Ramadhan. Kunjungan pertama adalah survey untuk mengetahui kebutuhan panti asuhan atau rumah yatim. Kunjungan kedua membawa bantuan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketika berkunjung ke salah satu rumah yatim, ayah angkat saya bertemu dengan seorang bocah bernama Nina.&lt;br /&gt;"Nina, apa yang anakku mau sayang"&lt;br /&gt;begitu ayah saya membuka percakapan.&lt;br /&gt;"Nina mau baju baru?, sepatu&lt;br /&gt;baru?, tas baru? Atau apa nak? tambah ayah saya.&lt;br /&gt;"Nggak ah... ntar om marah" jawab Nina.&lt;br /&gt;"nggak sayang, om tidak akan marah" ayah saya menimpali.&lt;br /&gt;"Nggak ah... ntar om marah" Nina mengulang jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah saya berpikir, pasti yang diminta Nina adalah sesuatu yang mahal. Rasa keingintahuan orang tua saya semakin menjadi. Maka dia dekati lagi Nina sambil berkata, "ayo nak katakan apa yang kamu minta sayang" "Tapi janji ya om tidak marah" jawab Nina manja. "Om janji tidak akan marah sayang" tegas ayah saya. "Bener om tidak akan marah" sahut Nina agak ragu. Ayah saya menganggukkan kepala pertanda bahwa ia setuju untuk tidak marah Nina menatap tajam wajah ayah saya. Sementara ayah saya berpikir, apa gerangan yang diminta oleh Nina. "Seberapa mahal sich yang bocah kecil ini minta sampai dia harus meyakinkan bahwa saya tidak akan marah' pikir ayah saya. Sambil tersenyum orang tua saya mengatakan "ayo nak, katakan, jangan takut, om tidak akan marah nak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan terus menatap wajah ayah saya, Nina berkata; "bener ya om tidak marah." Sekali lagi ayah saya mengganggukan kepala. Dengan wajah berharap-harap cemas, Nina mengajukan permintaanya "om, boleh nggak saya memanggil ayah" Mendengar jawaban itu, tak kuasa ayah saya membendung air matanya. Segera dia peluk Nina dan mengatakan "tentu anakku..tentu anakku...mulai hari ini Nina boleh memanggil ayah, bukan om" Sambil memeluk erat ayah saya, dengan terisak Nina berkata "terima kasih ayah... terima kasih ayah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, adalah hari yang tak akan terlupakan buat ayah saya. Dia habiskan waktu beberapa saat untuk bermain dan bercengkrama dengan Nina. Karena merasa belum memberikan sesuatu yang berbentuk material kepada Nina maka sebelum pulang, ayah saya berkata kepada Nina "anakku, sebelum lebaran nanti ayah akan datang lagi kemari bersama ibu, apa yang kamu minta nak?" "Khan udah tadi, Nina sudah boleh memanggil ayah" sergah Nina. "Nina masih boleh minta lagi sama ayah. Nina boleh minta sepeda, otoped atau yang lain, pasti akan ayah kasih." Sambil memegang tangan ayah saya, Nina memohon "nanti kalau ayah datang sama ibu ke sini, saya minta ayah bawa foto bareng ayah, ibu dan kakak-kakak, boleh khan ayah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba kaki orang tua saya lunglai, dia terduduk, bersimpuh di depan Nina. Dia peluk lagi Nina sambil bertanya; "buat apa foto itu nak?" Tanpa ragu Nina menjawab "Nina ingin tunjukkan sama temen-temen Nina di sekolah, ini foto ayah Nina, ini ibu Nina, ini kakak-kakak Nina." Ayah saya memeluk Nina semakin erat, seolah ia tak mau berpisah dengan seorang bocah yang menjadi guru kehidupan di hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih Nina, walau usiamu masih belia kau telah mengajarkan kepada kami tentang makna berbagi cinta. Berbagilah cinta, karena itu lebih bermakna dibandingkan dengan sesuatu yang kasat mata. Berbagilah cinta, maka kehidupan anda akan lebih bermakna. Berbagilah cinta agar orang lain merasakan keberadaan anda di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Berbagi Cinta oleh Jamil Azzaini. Jamil Azzaini adalah Inspirator Sukses-Mulia dan penulis buku Best Seller Kubik Leadership; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-3343487111862455676?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/3343487111862455676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/3343487111862455676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/03/berbagi-cinta.html' title='Berbagi Cinta'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rgt8Ukz1TFI/AAAAAAAAAGY/NnQ6aSYiVI8/s72-c/nangis.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-7795245732493853968</id><published>2007-03-14T21:52:00.000-07:00</published><updated>2007-03-14T21:53:40.984-07:00</updated><title type='text'>terimakasih</title><content type='html'>terimakasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rasa sayangku&lt;br /&gt;rasa cintaku&lt;br /&gt;tak terhingga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indah hari-hariku&lt;br /&gt;indah waktuku&lt;br /&gt;saat kau bersamaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terkenang detik demi detik&lt;br /&gt;yang penuh warna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam gelap&lt;br /&gt;cepatlah berlalu&lt;br /&gt;kurindukan pagi&lt;br /&gt;kembali indah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terimakasihku&lt;br /&gt;untuk pagi yang indah&lt;br /&gt;terimakasihku&lt;br /&gt;membuat hidup ini indah&lt;br /&gt;terimakasihku&lt;br /&gt;untuk segalanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mutiara yang kudambakan&lt;br /&gt;mutiara terakhir dalam hidup&lt;br /&gt;mutiara yang selalu ada dalam hatiku&lt;br /&gt;tak akan terlupakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terimakasihku&lt;br /&gt;untuk segalanya&lt;br /&gt;doa tulusku&lt;br /&gt;semoga kau bahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.3.2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-7795245732493853968?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/7795245732493853968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/7795245732493853968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/03/terimakasih.html' title='terimakasih'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-2557500060592294883</id><published>2007-03-13T05:24:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T09:14:22.417-08:00</updated><title type='text'>Cinta Laki-laki Biasa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RfaYn8QhwbI/AAAAAAAAAF4/UUJ9R-2ktSA/s1600-h/cantik.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RfaYn8QhwbI/AAAAAAAAAF4/UUJ9R-2ktSA/s320/cantik.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5041384644845617586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa?" tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan menyadari, dia tak punya kata-kata!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu pasti bercanda!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!&lt;br /&gt;"Nania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada yang lucu," suara Papa tegas, "Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?" Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, "maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania terkesima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nania Cuma mau Rafli," sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka akhirnya menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli juga pintar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sepintarmu, Nania.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak apa," kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cantik ya? dan kaya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak imbang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lewat dua minggu dari waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baru pembukaan satu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belum ada perubahan, Bu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah bertambah sedikit," kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang pembukaan satu lebih sedikit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih pembukaan dua, Pak!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dokter?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?&lt;br /&gt;Bagaimana jika terlambat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pendarahan hebat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali.&lt;br /&gt;Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nania, bangun, Cinta?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nania, bangun, Cinta?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak merindukan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik banget suaminya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nania beruntung!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Cinta Laki-laki Biasa karya Asma Nadia dari kumpulan cerpen Cinta Laki-laki Biasa, diketik ulang oleh Juli Prasetio Utomo, 28 Juni 2005, dengan pembenahan beberapa ejaan dan tanda baca.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-2557500060592294883?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/2557500060592294883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/2557500060592294883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/03/cinta-laki-laki-biasa.html' title='Cinta Laki-laki Biasa'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RfaYn8QhwbI/AAAAAAAAAF4/UUJ9R-2ktSA/s72-c/cantik.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-4254958596486669999</id><published>2007-03-09T21:34:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T09:14:22.460-08:00</updated><title type='text'>Barang Milikku yang Paling Berharga Adalah Kamu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RfJDzsQhwZI/AAAAAAAAAFo/9zn761Ky-R0/s1600-h/peluk.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RfJDzsQhwZI/AAAAAAAAAFo/9zn761Ky-R0/s320/peluk.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5040165488313876882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Aku sangat menyukai ucapan mama : "Barang milikku yg paling berharga adalah kamu!" Ucapan yang sangat menyejukkan hati. dan sampai sekarang aku masih mengingatnya terus!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa dan mama menikah karena dijodohkan orang tua, demikianlah yg dialami para muda-mudi dizaman itu, tapi hal ini sudah umum, tapi dizaman sekarang peristiwa itu sudah jarang terjadi, kebanyakan adalah hasil pilihan sendiri. Tapi mama sangat mencintai papa, demikian juga dg papa dan tampak selalu mesra, akur bagaikan pasangan cinta sejoli. Sangat sulit dibayangkan bahwa pernikahan mereka pernah diterjang badai! Badai itu nyaris memisahkan mereka. hanya karena emosi sesaat saja! Papa dan mama bekerja diinstansi yg sama, oleh karena itu setiap hari berangkat dan pulang bersama. Suatu hari mereka kerja lembur, mengadakan stock opname digudang, hingga pukul 2.00 dinihari dan baru pulang kerumah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Papa sangat letih dan lapar, sampai dirumah tidak ada makanan maupun minuman yg siap disaji. Papa yg lapar minta mama untuk menyiapkan makanan dan minuman. Beberapa hari belakangan ini emosi mama memang tidak stabil, ditambah lagi dg adanya lembur, badan dan pikiran sungguh  melelahkan, sehingga dg kondisi yg labil itu, mama spontan menjawab dg nada keras, " mau makan dan minum, memangnya tidak bisa masak sendiri? Apa tidak punya tangan dan kaki lagi, ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena papa juga terlalu capek, dan langsung menjawab dg acuh tak acuh, "kamu ini isteriku, memasak adl sudah menjadi kewajibanmu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama langsung merespon, "tengah malam begini mau masak apa? Sudah lewat waktunya makan, orang laki seharusnya lebih kuat dari pada perempuan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar itu, marahlah papa, beliau langsung berteriak dg emosi, "kamu salah makan obat apa kemarin? Mau sengaja cari ribut,ya? Istri memasak untuk suami adalah wajar, kenapa harus tergantung pada waktu? Kamu tidak senang, ya? Kalau tidak senang, kamu pergi saja sekarang dari rumah ini!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama tidak menyangka akan menerima reaksi yg begitu keras. Setelah terdiam sesaat, mama kemudian berkata sambil menitikkan air mata, "kamu ingin aku pergi........aku akan pergi sekarang!" Mama segera kembali kekamar untuk mengemasi barang2nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat mama masuk kamar dan berkemas-kemas, papa berkata kepada mama yg membelakanginya, "bagus! Pergi sana!Ambil semua barang2mu dan jangan&lt;br /&gt;kembali lagi!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian suasana menjadi sunyi senyap, tak ada kata2 kebencian lagi yg muncul, menit demi menit berlalu, tapi mama tetap tak kunjung keluar dari kamar. Merasakan keanehan itu, papa kemudian menyusul masuk  kamar dan melihat mama sedang duduk diranjang penuh dengan linangan air mata. Sambil menatap koper kulit besar yg masih tergeletak diatas ranjang. Melihat papa datang, dg ter-isak2 mama berkata, "duduklah diatas koper kulit itu, supaya aku boleh mengenang masa2 perpisahan kita yg terakhir."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa aneh, maka dengan sendu papa akhirnya tidak tahan juga untuk tidak bertanya, " "untuk apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menangis dg ter-putus2 mama berkata, "emas dan perak aku tidak memilikinya," tapi milikku yang paling berharga adalah kamu!" Kamu dan anak2ku, aku tidak memiliki apapun...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun kejadian itu telah lewat lama sekali, tapi aku masih mengingatnya terus sampai sekarang. Apalagi ketika mama mengucapkan kata2 terakhir itu, papa merasa sangat tergoncang, sejak malam itu, papa telah diubah dan telah menjadi sangat hormat dan sayang kepada mama. Menggandeng tangan anak2, merangkul mama serta senantiasa saling berpelukan. Kelak aku juga bercita-cita ingin mendapatkan pasangan yg seperti papa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan apapun yg kita jalani ini, itu tidaklah penting; tapi yg terpenting adl bagaimana sikap kita dalam menghadapi hidup ini, terutama disaat-saat badai itu muncul."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-4254958596486669999?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/4254958596486669999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/4254958596486669999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/03/barang-milikku-yang-paling-berharga.html' title='Barang Milikku yang Paling Berharga Adalah Kamu'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RfJDzsQhwZI/AAAAAAAAAFo/9zn761Ky-R0/s72-c/peluk.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-8030163307580177592</id><published>2007-03-01T06:13:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T09:14:22.551-08:00</updated><title type='text'>Kura-kura</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RebhBa0WzaI/AAAAAAAAAFc/DRSIATVMuZE/s1600-h/kurakura.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RebhBa0WzaI/AAAAAAAAAFc/DRSIATVMuZE/s320/kurakura.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5036960647755517346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ada satu keluarga kura2 memutuskan untuk pergi bertamasya. Dasarnya kura2, dari sononya memang sudah serba lambat, untuk mempersiapkan piknik ini saja mereka butuhkan waktu 7 tahun. Akhirnya keluarga kura2 ini meninggalkan hunian mereka, pergi mencari tempat yang cocok untuk kegiatan piknik mereka. Baru ditahun kedua mereka temukan lokasi yang sesuai dan cocok!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama enam bulan mereka membersihkan tempat itu, membongkari semua keranjang2 perbekalan piknik, dan membenah-susuni tempat itu. Lalu mereka baru sadar dan lihat bahwa mereka lupa membawa garam. Waduh, sebuah piknik tanpa garam? Mereka serempak setuju dan berteriak itu bisa menjadi bencana luar biasa. Setelah panjang lebar berdiskusi, kura termuda yang diputuskan terpilih untuk mengambil garam dirumah mereka. Meskipun ia termasuk kura tercepat dari semua kura2 yang lambat, si kura kecil ini merengek,menangis dan me-ronta2 dalam batoknya. Ia setuju pergi tapi asal berdasarkan satu syarat: bahwa tidak satupun boleh makan sampai ia kembali.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Keluarga kura itu setuju dan sikura kecil ini berangkatlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun lewat dan kura kecil itu masih juga belum kembali. Lima tahun.... enam tahun ..... lalu memasuki tahun ketujuh kepergiannya, kura-kura tertua sudah tak tahan menahan laparnya. Ia pun mengumumkan bahwa ia begitu lapar dan akan mulai makan dan mulai membuka rotinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu, tiba2 muncul si kura-kura kecil dari balik sebatang pohon dan berteriak: "LIHAT TUHHHH! Benar kan !? Aku tahu kalian memang tak akan menunggu. Achhh, kalau begini caranya aku nggak mau pergi mengambil garam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Sebagian dari kita memboroskan waktu sekedar cuma menunggui sampai orang lain memenuhi harapan kita. Sebaliknya, kita begitu kuatir, prihatin,&lt;br /&gt;sering2 malah terlalu memperdulikan apa yang dikerjakan orang lain sampai-sampai dan malahan kita cuma berpangku tangan tanpa berbuat apapun.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-8030163307580177592?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/8030163307580177592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/8030163307580177592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/03/kura-kura.html' title='Kura-kura'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RebhBa0WzaI/AAAAAAAAAFc/DRSIATVMuZE/s72-c/kurakura.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-7809836684084647956</id><published>2007-02-27T02:06:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T09:14:22.739-08:00</updated><title type='text'>Do'aku Smoga Kalian Selamat...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/ReQDi60WzWI/AAAAAAAAAEs/fyQPeyDz5y8/s1600-h/anak.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/ReQDi60WzWI/AAAAAAAAAEs/fyQPeyDz5y8/s320/anak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5036154181746347362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pada tahun 1997 an saya bekerja pada Perusahan Jepang di wilayah Cilegon. Suatu malam kira-kira jam 9 an sehabis makan malam, saya bersama seorang rekan kerja pulang naik angkot ke arah Merak untuk kembali ke Mes Perusahaan tempat kami tinggal. Di depan persimpangan Polres Cilegon, angkot yang kami tumpangi di stop oleh seorang Bapak yang sedang menggendong anak umur 2 tahunan sambil menuntun 2 orang anak lainnya kira-kira usia 5 dan 7 tahun semuanya anak perempuan. Penampilan semuanya sangat lusush, anak terkecil tidak pakai sandal sedang yang lainnya pakai sandal jepit yang sudah kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika angkot berhenti Bapak tsb tidak langsung naik tetapi melongok ke sopir sambil memperlihatkan berapa jumlah uang yang dia miliki, saya yang duduk dibelakang sopir melihat kejadian itu walaupun tidak tahu pasti berapa banyak uang recehan 100 rupiaan yang dia tunjukkan ke sopir, perkiraan saya sekitar Rp 600, padahal normalnya satu orang harus bayar minimal Rp 1000. Bapak tsb minta izin ke sopir untuk naik angkot walaupun dengan ongkos seadanya. Melihat uang kurang, sopir tidak memperkenankan Bapak itu naik dan hendak maju lagi, saya terperanjat dan berteriak Stop-stop... langsung bilang sama sopir, tolong Bapak dan anaknya dibawa, biar saya yang bayar ongkosnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sambil masuk mobil, Bapak tadi mengucapkan terimakasih, lalu duduk di dekat pintu sambil menggendong 2 anak karena yang satunya saya gendong, selanjutnya dia hanya tertunduk mungkin malu sama penumpang lain yang kebetulan memang angkot sudah terisi penuh. Menyaksikan semua itu saya bergetar, dan naluri saya berkata orang ini pasti sedang membutuhkan pertolongan. Dalam perjalanan saya coba tanya dengan nada simpati, malam-malam begini Bapak mau pergi kemana? Dia jawab: saya mau pergi ke Pasar merak. Kok malam-malam, emang Bapak mau belanja apa? Jawabnya : Bukan, saya mau cari truk sayur, rencananya saya ingin menumpang truk untuk pulang kampung ke Sukabumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar jawaban itu saya tersedak, hati bergetar, air mata saya bercucuran, bukan hanya karena saya keturunan dari Sukabumi tapi bagaimana membayangkan kalau itu anak balita saya yang harus naik truk dari Merak ke Sukabumi, malam-malam lagi. Selanjutnya saya bertaruh pasti keluarga ini belum makan... dan ternyata betul.... Ya Alloh, tak mungkin saya membiarkan keluarga ini dengan perut kosong naik truk pulang ke Sukabumi sementara saya tidur dengan perut kekenyangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita saya ajak keluarga Bapak itu ke tempat saya, lalu saya hidangkan makanan yang saya miliki agar dia bisa makan, saya berikan obat-obatan ringan dan bekal biskuit serta mie instan. Selanjutnya saya antar dia naik angkot ke Merak dan tak lupa dititipi uang untuk beli tiket bis lebih dari cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, sekembali saya ngantar keluarga Bapak itu, rekan kerja saya yang sejak awal menemani saya berkata, kamu sebaiknya hati-hati nemuin orang seperti itu, jangan terlalu baik, siapa tahu dia itu seorang penipu, pura-pura gak punya uang dan memanfaatkan anak kecil untuk menarik iba orang lain. Saya jawab dengan mantap, kalau pun dia itu menipu saya, saya ikhlas... uang atau barang yang saya kasihkan tidak seberapa, lebih baik ditipu daripada harus membiarkan orang kelaparan di depan saya tanpa berbuat apapun... kita kembalikan saja kepada Alloh Swt. Saya tidak menyalahkan sikap kawan saya yang acuh tak acuh terhadap penderitaan orang, tapi kebanayakan para penipu masuk lewat cara seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, saya ingin mengucapkan terimakasih buat doa Bapak sekeluarga yang mungkin selama perjalanan pulang ke Sukabumi mendoakan kebaikan untuk saya. Sekarang saya dan anak istri tinggal di Jepang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah sampai Doktor. Smoga Bapak sekeluarga samapai Sukabumi dengan selamat...&lt;br /&gt;Pesan saya buat semua orang... selalu berbuat baik... karena Alloh Maha Kaya, Dia akan memberikan kebaikan dari arah yang tidak kita duga.&lt;br /&gt;Subhanalloh wabihamdihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Lisman Suryanegara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh mulia hati anda, semoga Anda dan keluarga dilimpah rezeki dan nikmat yang berlimpah. Dan semoga semakin banyak orang-orang baik seperti anda di dunia ini. Amin.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-7809836684084647956?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/7809836684084647956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/7809836684084647956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/02/doaku-smoga-kalian-selamat.html' title='Do&apos;aku Smoga Kalian Selamat...'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/ReQDi60WzWI/AAAAAAAAAEs/fyQPeyDz5y8/s72-c/anak.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-6239145448982393129</id><published>2007-02-27T01:52:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T09:14:22.959-08:00</updated><title type='text'>Selembar Cek</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/ReQAwa0WzVI/AAAAAAAAAEg/p72aK3VOYUs/s1600-h/cek.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/ReQAwa0WzVI/AAAAAAAAAEg/p72aK3VOYUs/s320/cek.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5036151115139698002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;"Yi zhang zhi piao"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah keluarga, tinggallah seorang ayah dengan putra tunggalnya&lt;br /&gt;yang sebentar lagi lulus dari perguruan tinggi. Sang ibu beberapa&lt;br /&gt;tahun yang lalu telah meninggal dunia. Mereka berdua memiliki&lt;br /&gt;kesamaan minat yakni mengikuti perkembangan produk otomotif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, saat pameran otomotif berlangsung, mereka berdua pun ke&lt;br /&gt;sana. Melihat sambil berandai-andai. Seandainya tabungan si ayah&lt;br /&gt;mencukupi, kira-kira mobil apa yang sesuai budget yang akan di beli.&lt;br /&gt;Sambil bersenda gurau, sepertinya sungguh-sungguh akan membeli mobil&lt;br /&gt;impian mereka.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menjelang hari wisuda, diam-diam si anak menyimpan harapan dalam&lt;br /&gt;hati, "Mudah-mudahan ayah membelikan aku mobil, sebagai hadiah&lt;br /&gt;kelulusanku. Setelah lulus, aku pasti akan memasuki dunia kerja. Dan&lt;br /&gt;alangkah hebatnya bila saat mulai bekerja nanti aku bisa berkendara&lt;br /&gt;ke kantor dengan mobil baru," harapnya dengan senang. Membayangkan&lt;br /&gt;dirinya memakai baju rapi berdasi, mengendarai mobil ke kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat hari wisuda tiba, ayahnya memberi hadiah bingkisan yang segera&lt;br /&gt;dibukanya dengan harap-harap cemas. Ternyata isinya adalah sebuah&lt;br /&gt;kitab suci di bingkai kotak kayu berukir indah. Walaupun mengucap&lt;br /&gt;terima kasih tetapi hatinya sungguh kecewa. "Bukannya aku tidak&lt;br /&gt;menghargai hadiah dari ayah, tetapi alangkah senangnya bila isi&lt;br /&gt;kotak itu adalah kunci mobil," ucapnya dalam hati sambil menaruh&lt;br /&gt;kitab suci kembali ke kotaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berlalu dengan cepat, si anak diterima kerja di kota besar. Si&lt;br /&gt;ayah pun sendiri dalam kesepian. Karena usia tua dan sakit-sakitan,&lt;br /&gt;tak lama si ayah meninggal dunia tanpa sempat meninggalkan pesan&lt;br /&gt;kepada putranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah masa berkabung selesai, saat sedang membereskan barang-&lt;br /&gt;barang, mata si anak terpaku melihat kotak kayu hadiah wisudanya&lt;br /&gt;yang tergeletak berdebu di pojok lemari. Dia teringat itu hadiah&lt;br /&gt;ayahnya saat wisuda yang diabaikannya. Perlahan dibersihkannya kotak&lt;br /&gt;penutup, dan untuk pertama kalinya kitab suci hadiah pemberian si&lt;br /&gt;ayah dibacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat membaca, tiba-tiba sehelai kertas terjatuh dari selipan kitab&lt;br /&gt;suci. Alangkah terkejutnya dia. Ternyata isinya selembar cek dengan&lt;br /&gt;nominal sebesar harga mobil yang diinginkan dan tertera tanggalnya&lt;br /&gt;persis pada hari wisudanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berlinang airmata, dia pun tersadar. Terjawab sudah, kenapa&lt;br /&gt;mobil kesayangan ayahnya dijual. Ternyata untuk menggenapi harga&lt;br /&gt;mobil yang hendak dihadiahkan kepadanya di hari wisuda. Segera ia&lt;br /&gt;pun bersimpuh dengan memanjatkan doa, "Ayah maafkan anakmu yang&lt;br /&gt;tidak menghargai hadiahmu …. Walau terlambat, hadiah Ayah telah&lt;br /&gt;kuterima…… Terima kasih Ayah.. Semoga Ayah berbahagia di sisiNYA,&lt;br /&gt;amin".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jarang para orang tua memberi perhatian dengan alasan dan&lt;br /&gt;caranya masing-masing. Tetapi dalam kenyataan hidup, karena kemudaan&lt;br /&gt;usia anak dan emosi yang belum dewasa, seringkali terjadi&lt;br /&gt;kesalahfahaman pada anak dalam menerjemahkan perhatian orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan cepat menghakimi sekiranya harapan tidak sesuai dengan&lt;br /&gt;kenyataan. Sebaliknya tidak menjadikan kita manja hingga selalu&lt;br /&gt;menuntut permintaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari belajar menjadi anak yang pandai menghargai setiap perhatian&lt;br /&gt;orang tua.[aw]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Selembar Cek oleh Andrie Wongso&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-6239145448982393129?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/6239145448982393129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/6239145448982393129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/02/selembar-cek.html' title='Selembar Cek'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/ReQAwa0WzVI/AAAAAAAAAEg/p72aK3VOYUs/s72-c/cek.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-281901828263599426</id><published>2007-02-18T21:12:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T09:14:23.096-08:00</updated><title type='text'>Jangan Beranggapan Tuhan Tidak Ada</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rdky8rleBbI/AAAAAAAAAEU/K7CwWZ3k59s/s1600-h/cukur.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rdky8rleBbI/AAAAAAAAAEU/K7CwWZ3k59s/s320/cukur.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5033110076636661170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat. Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.&lt;br /&gt;Si tukang cukur bilang,"Saya tidak percaya Tuhan itu ada".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa kamu berkata begitu ???" timpal si konsumen. "Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan.... untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada, Adakah yang sakit??, Adakah anak terlantar?? Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi." Kata Tukang Cukur.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat. Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar mlungker-mlungker-istilah jawa-nya", kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata, "Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR". Si tukang cukur tidak terima," Kamu kok bisa bilang begitu ??". "Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak!" elak si konsumen. "Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana", si konsumen menambahkan. "Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!", sanggah si tukang cukur. " Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya", jawab si tukang cukur membela diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cocok!"-kata si konsumen menyetujui."Itulah point utama-nya!. Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA !, Tapi apa yang terjadi... orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA. Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si tukang cukur terbengong !!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: email dari Hakim Desyanto&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-281901828263599426?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/281901828263599426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/281901828263599426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/02/jangan-beranggapan-tuhan-tidak-ada.html' title='Jangan Beranggapan Tuhan Tidak Ada'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rdky8rleBbI/AAAAAAAAAEU/K7CwWZ3k59s/s72-c/cukur.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-8720340073434518636</id><published>2007-02-08T01:32:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T09:14:23.274-08:00</updated><title type='text'>Surat Hawa Untuk Adam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rcryd7leBaI/AAAAAAAAAEI/PqDx8tF3URM/s1600-h/love.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rcryd7leBaI/AAAAAAAAAEI/PqDx8tF3URM/s320/love.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5029098529937556898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Adam.....&lt;br /&gt;Maafkan aku jika coretan ini memanaskan hatimu. Sesungguhnya aku adalah Hawa, temanmu yang kau pinta semasa kesunyian di syurga dahulu. Aku asalnya dari tulang rusukmu yang bengkok. Jadi tidak heranlah jika perjalanan hidupku senantiasa inginkan bimbingan darimu, senantiasa akan tergelincir dari landasan, karena aku buruan syaitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam... Maha suci Allah yang mentakdirkan kaumku lebih ramai bilangannya dari kaummu di akhir zaman, itulah sebenarnya ketelitian Allah dalam urusanNya. Jika bilangan kaummu melebihi kaumku niscaya merahlah dunia karena darah manusia, kacau-balaulah suasana, Adam sama Adam bermusuhan karena Hawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buktinya cukup nyata dari peristiwa Habil dan Qabil sehingga pada zaman cucu-cicitnya. Pun jika begitu maka tidak selaraslah undang-undang Allah yang mengharuskan Adam beristeri lebih dari satu tapi tidak lebih dari empat pada satu waktu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Adam... Bukan karena banyaknya isterimu yang membimbangkan aku. Bukan karena sedikitnya bilanganmu yang memusingkan aku. Tapi... aku risau, gundah dan gulana menyaksikan tingkahmu. Aku sejak dulu sudah&lt;br /&gt;tahu bahwa aku mesti tunduk ketika menjadi isterimu. Namun... terasa berat pula untukku meyatakan isi perkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam... Aku tahu bahwa dalam Al-Quran ada ayat yang menyatakan kaum lelaki adalah menguasai terhadap kaum wanita. Kau diberi amanah untuk mendidik aku, kau diberi tanggungjawab untuk menjaga aku, memerhatikan dan mengawasi aku agar senantiasa didalam ridha Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Adam, nyata dan rata-rata apa yang sudah terjadi pada kaumku kini, aku dan kaumku telah ramai mendurhakaimu. Ramai yang telah menyimpang dari jalan yang ditetapkan. Asalnya Allah menghendaki aku tinggal tetap dirumah. Di jalan-jalan, di pasar-pasar, di bandar-bandar bukan tempatku. Jika terpaksa aku keluar dari rumah seluruh tubuhku mesti ditutup dari ujung kaki sampai ujung rambut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi.. realitanya kini, Hawa telah lebih dari sepatutnya. Adam... Mengapa kau biarkan aku begini? Aku jadi ibu, aku jadi guru, itu sudah tentu katamu. Aku ibu dan guru kepada anak-anakmu. Tapi sekarang diwaktu yang sama, aku maju menguruskan hal negara, aku ke hutan memikul senjata. Padahal, kau duduk saja. Ada diantara kau yang menganggur tiada kerja. Apakah kau sekarang tidak lagi seperti dulu? Apakah sudah hilang kasih sucimu terhadapku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam... Marahkah kau jika kukatakan andainya Hawa tergelincir, maka Adam yang patut tanggung! Kenapa..? Mengapa begitu ADAM ?? Ya! Ramai orang berkata jika anak jahat ibu-bapak tak pandai mendidik, jika murid bodoh, guru yang tidak pandai mengajar! Adam kau selalu berkata, Hawa memang keras, tak mau dengar kata, tak mudah diberi nasihat, kepala batu, pada hematku yang dhaif ini Adam, seharusnya kau tanya dirimu, apakah didikanmu terhadapku sama seperti didikan Nabi Muhammad SAW terhadap isteri-isterinya? Adakah Adam melayani Hawa sama seperti psikologi Muhammad terhadap mereka? Adakah akhlak Adam-Adam boleh dijadikan contoh terhadap kaum Hawa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam... Kau sebenarnya imam dan aku adalah makmummu, aku adalah pengikut-pengikutmu karena kau adalah ketua. Jika kau benar, maka benarlah aku. Jika kau lalai, lalailah aku. Kau punya kelebihan akal manakala aku kelebihan nafsu. Akalmu sembilan, nafsumu satu. Aku...akalku satu nafsuku beribu! Dari itu Adam....pimpinlah tanganku, karena aku sering lupa, lalai dan alpa, sering aku tergelincir didorong oleh nafsu2ku. Bimbinglah aku untuk menyelami kalimat Allah, perdengarkanlah aku kalimat syahdu dari Tuhanmu agar menerangi hidupku. Tiuplah ruh jihad ke dalam dadaku agar aku menjadi mujahidah kekasih Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam... Andainya kau masih lalai dan alpa dengan ulahmu sendiri, masih segan mengikut langkah para sahabat, masih gentar mencegah mungkar, maka kita tunggu dan lihatlah, dunia ini akan hancur bila kaumku yang akan memerintah. Malulah engkau Adam, malulah engkau pada dirimu sendiri dan pada Tuhanmu yang engkau agungkan itu...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-8720340073434518636?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/8720340073434518636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/8720340073434518636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/02/surat-hawa-untuk-adam.html' title='Surat Hawa Untuk Adam'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rcryd7leBaI/AAAAAAAAAEI/PqDx8tF3URM/s72-c/love.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-7662268905706430658</id><published>2007-02-08T01:16:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T09:14:24.521-08:00</updated><title type='text'>Mutiara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcrstbleBYI/AAAAAAAAADw/hLuaosBpB2E/s1600-h/mutiara.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcrstbleBYI/AAAAAAAAADw/hLuaosBpB2E/s400/mutiara.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5029092199155762562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;“Hai Anakku.” Kata Seorang Guru kepada muridnya yang duduk berhadapan dihamparan pasir pantai. “Sepertinya sudah cukup engkau belajar dariku, saatnya engkau belajar dari dunia luar, lingkungan yang sebenarnya”, papar Sang Guru kemudian. “Namun ada satu hal lagi yang harus engkau lakukan, sebagai bekalmu nanti, dan pelajaran akhir dariku.” “Apa itu Guru ?” tanya murid tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Carilah mutiara di laut yang indah itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mencari mutiara di laut itu Guru ?” tanya murid minta kepastian. “Bukankah di dasar laut itu gelap Guru, bagaimana aku bisa tahu itu mutiara atau bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan ilmu yang engkau miliki, engkau bisa menerangi dasar laut yang gelap tsb sehingga engkau bisa membedakan mana yang mutiara dan bukan”, jelas Gurunya. “Kecuali kalo kamu sengaja mengambil yang bukan mutiara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah kalo bagitu Guru.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Untuk itu aku akan memberimu sesuatu buatmu, yang pertama adalah kuberi kau sebuah kantung di mana dengan kantung ini kau bisa menyimpan mutiara yang engkau dapatkan sebanyak-banyaknya, semakin banyak kau dapatkan maka kau akan semakin kuat sehingga bisa untuk mencari mutiara di tempat lain, jangan kau masukkan mutiara yang cacat atau selain mutiara, karena hal itu akan melemahkanmu dan akan membuatmu berat, mengerti kau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengerti Guru, lalu apa lagi Guru?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Satu lagi, yaitu kuberi engkau sebuah kotak, yang dengan kotak ini engkau dapat menyimpan mutiara maksimal sebanyak empat. Namun tidak sembarangan mutiara yang engkau masukkan. Masukkanlah mutiara yang menurutmu paling bagus, paling indah, paling bersinar, bisa menyenangkanmu, semakin cepat engkau memasukkan mutiara yang menurutmu paling indah tersebut dalam kotak ini, maka kekuatanmu akan berlipat ganda, lebih dari kantung mutiara tadi, tapi ingat jika engkau memasukkan mutiara ke dalam kotak itu lebih dari satu sedang engkau tidak bisa menahan kekuatannya, maka engkau yang akan mendapat kerugian, kotak tersebut akan pecah, mutiara tersebut akan hilang dan kekuatanmu akan melemah, engkau harus pandai-pandai dan bijaksana mengambil keputusan, serta aku sangat tidak menyukai engkau mengambil lagi mutiara yang telah engkau masukkan dalam kotak tersebut kecuali jika memang mutiara yang engkau masukkan justru akan mengurangi kekuatanmu dan ingat, waktumu sampai matahari terbenam di ufuk Barat.” jelas Guru tersebut pada muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah Guru, akan kuingat pesanmu” jawab muridnya sambil menerima kedua barang dari Gurunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian turunlah murid tersebut ke dalam lautan. Dengan ilmunya, dia sanggup berada di dalam laut, dan mampu melihat dasar laut yang gelap gulita. Kemudian diapun sibuk mencari mutiara di antara batu-batu kerikil, banyak mutiara yang ditemukan, ada kemilau, bersinar, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lumayan juga, banyak mutiara yang telah kudapatkan, tenagaku pun terasa lebih kuat, aku akan pergi ke tempat lain lagi, barangkali di sana kutemukan mutiara yang cocok untuk kotak ini” pikir murid tersebut sambil memasukkan mutiara-mutiara yang ditemuinya ke dalam kantung. Di tempat lain, hal samapun dilakukan, sambil mencari mutiara yang cocok untuk dimasukkan dalam kotak, sampai suatu ketika ditemuinya sebuah mutiara yang cukup membuat hatinya tertarik, sebuah mutiara putih bersih kemilauan dengan sinarnya yang terang menerangi hati. Akhirnya diambil mutiara tersebut dan dimasukkan kedalam kotak. Benar kata Gurunya, mutiara tersebut memberi kekuatan yang berlipat ganda, tapi masih ada waktu lagi untuk mencari, maka pergilah dia ketempat lain untuk mengumpulkan mutiara-mutiara yang lain. Namun ditempat lain tersebut ditemuinya lagi sebuah mutiara yang lebih indah dari mutiara yang dimasukkan kotak tersebut. Muncul kebimbangan hati dalam diri murid tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Guruku berpesan, jika aku tidak kuat, maka jangan memasukkan mutiara ini ke dalam kotak yang sudah terisi, akan berbahaya bagiku, Guruku juga melarangku untuk mengeluarkan mutiara dalam kotak ini apalagi mutiara tsb telah memberiku kekuatan, tapi mutiara ini teramat indah, lebih indah dari sebelumnya” cukup lama juga murid tersebut dalam kebimbangan, akhirnya diputuskan untuk memasukkan mutiara terindah itu ke dalam kantung saja, kemudian dia melanjutkan lagi perjalanannya mencari mutiara karena waktunya masih ada. Di tempat lain dia juga mengalami hal serupa, dia menemukan mutiara yang lebih indah lagi, tapi dengan ketetapan hatinya, dia tetap mempertahankan mutiara dalam kotak tersebut. dan meletakkan mutiara terindah itu ke dalam kantung, hingga batas waktunya telah tiba, dan dia harus kembali pada sang Guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditemuilah Gurunya dengan membawa hasil yang diperolehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Guru, aku sudah menyelesaikan tugas ini Guru, aku sudah berhasil membawa mutiara dalam kantung ini dan dalam kotak ini”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagus kalau begitu, ketahuilah wahai anakku, aku akan memberitahumu sesuatu di balik hal tersebut, Ketauhilah bahwa kantung yang kuberikan itu ibarat tempat untuk menampung teman/sahabat, maka carilah sahabat yang baik. Buatmu carilah sahabat yang menjadi mutiara bagimu yang mampu memberimu kebaikan, semakin banyak engkau memiliki sahabat, maka akan banyak sahabat lagi yang akan kau dapatkan di kemudian hari, seakan-akan tempat itu bisa menampung tak terbatas banyaknya, semakin banyak akan semakin baik, tetapi jika engkau memiliki sahabat yang buruk yang bukan mutiara bagimu, maka hal itu akan memberatkanmu dan akan merugikanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa maksud dari kotak ini Guru?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kotak ini memiliki maksud dengan pasangan hidup atau istri, nanti dalam hidupmu, engkau hanya diperkenankan memiliki istri maksimal empat, carilah istri yang engkau anggap paling indah, paling engkau suka menurut pandanganmu karena hal itu akan memberimu kekuatan, kebahagian kesenangan, mungkin juga setelah engkau memiliki istri, suatu saat engkau akan menemukan lagi orang yang lebih indah menurut pandanganmu, jika engkau memang sanggup dan dapat berlaku adil dan bijaksana, maka hal itu baik juga bagimu, tetapi jika engkau tidak kuat, dan tidak dapat berlaku adil pada mereka maka engkau juga yang akan menderita, dan terbebani, juga akan membuat mutiara tersebut tidak bisa memberimu kekuatan, justru memberatkanmu, Jika engkau mengeluarkan mutiara atau engkau menceraikan istrimu padahal dia telah memberikan kebaikan bagimu, sesungguhnya hal itu sangat tidak disukai,dan engkau telah dzalim kepadanya. kecuali jika memang istrimu bukan mutiara, tidak memberikan kebaikan bagimu, melainkan memberatkanmu maka menceraikannya adalah hal yang baik bagimu. Karenanya engkau harus pandai-pandai dalam mengambil keputusan, engkau harus bisa memilih mutiara diantara batu-batu dan memilih mutiara terbaik bagimu serta engkau harus bijaksana jika engkau suatu saat menemukan orang yang lebih baik dari istrimu, menemukan mutiara yang lebih baik dari yang ada, apakah engkau mengerti Wahai Anakku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Insya Allah mengerti Guru”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti jika engkau telah berada diluar, gunakanlah ilmumu, gunakanlah Al-Islam sebagai penerang bagimu, dalam menentukan mana yang baik dan yang buruk, insya Allah engkau akan mendapatkan hasil akhir yang baik jika engkau berpegang padanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik Guru, insya Allah saya akan mengingat pesan-pesan Guru, jika nanti saya berada di dunia luar, doakan saya agar saya sanggup berpegang teguh dengan Al-Islam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-7662268905706430658?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/7662268905706430658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/7662268905706430658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/02/mutiara.html' title='Mutiara'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcrstbleBYI/AAAAAAAAADw/hLuaosBpB2E/s72-c/mutiara.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-4976723278926723654</id><published>2007-02-05T21:56:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T09:14:24.925-08:00</updated><title type='text'>Tempayan Yang Retak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcgZVEZAuSI/AAAAAAAAACY/BmJdG6J01FA/s1600-h/tempayan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcgZVEZAuSI/AAAAAAAAACY/BmJdG6J01FA/s320/tempayan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5028296833705752866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Seorang tukang air di India memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikula, yang dibawanya menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air, “Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu”. “Kenapa?” tanya si tukang air. “Kenapa kamu merasa malu?”. “Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacadku itu, saya telah membuatmu rugi,” kata tempayan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia berkata, “Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si tukang air berkata kepada tempayan itu, “Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu? Itu karena aku selalu menyadari akan cacadmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu.Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap dari kita memiliki cacad dan kekurangan. Kita semua adalah tempayan retak. Namun jika mau, kita bisa menemukan kekuatan kita di balik kelemahan kita. Jangan takut akan kekuranganmu, kenalilah kelemahanmu agar tak ada yang terbuang percuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-4976723278926723654?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/4976723278926723654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/4976723278926723654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/02/tempayan-yang-retak.html' title='Tempayan Yang Retak'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcgZVEZAuSI/AAAAAAAAACY/BmJdG6J01FA/s72-c/tempayan.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-3233679234668524153</id><published>2007-02-04T20:56:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T09:14:25.083-08:00</updated><title type='text'>Kisah Sepotong Kue</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rca6jUZAuRI/AAAAAAAAACM/SfSWJxnCsEk/s1600-h/kue.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rca6jUZAuRI/AAAAAAAAACM/SfSWJxnCsEk/s320/kue.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5027911149937539346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk membuang waktu, ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara, lalu menemukan tempat untuk duduk. Sambil duduk wanita itu membaca buku yang baru saja dibelinya. Dalam keasyikannya, ia melihat lelaki disebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada diantara mereka. Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan. Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam. Sementara si Pencuri Kue yang pemberani menghabiskan persediaannya. Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itupun sempat berpikir: “Kalau aku bukan orang baik sudah kutonjok dia!”.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap ia mengambil satu kue, Si lelaki juga mengambil satu. Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, Si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya sementara ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir : “Ya ampun orang ini berani sekali, dan ia juga kasar malah ia tidak kelihatan berterima kasih”. Belum pernah rasanya ia begitu kesal. Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang. Menolak untuk menoleh pada si “Pencuri tak tahu terima kasih”. Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan nafas dengan kaget. Disitu ada kantong kuenya, di depan matanya !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok milikku ada disini erangnya dengan patah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kue tadi adalah milik lelaki itu dan ia mencoba berbagi. Terlambat untuk minta maaf, ia tersandar sedih. Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih. Dan dialah pencuri kue itu !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup ini kisah pencuri kue seperti tadi sering terjadi. Kita sering berprasangka dan melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri serta tak jarang kita berprasangka buruk terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang lainlah yang selalu salah&lt;br /&gt;Orang lainlah yang patut disingkirkan&lt;br /&gt;Orang lainlah yang tak tahu diri&lt;br /&gt;Orang lainlah yang berdosa&lt;br /&gt;Orang lainlah yang selalu bikin masalah&lt;br /&gt;Orang lainlah yang pantas diberi pelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal: Kita sendiri yang mencuri kue tadi. Kita sendiri yang tidak tahu terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering mempengaruhi, mengomentari, mencemooh pendapat, penilaian atau gagasan orang lain. Sementara sebetulnya kita tidak tahu betul permasalahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-3233679234668524153?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/3233679234668524153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/3233679234668524153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/02/kisah-sepotong-kue.html' title='Kisah Sepotong Kue'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/Rca6jUZAuRI/AAAAAAAAACM/SfSWJxnCsEk/s72-c/kue.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-5419322660746934470</id><published>2007-02-02T22:27:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T09:14:25.235-08:00</updated><title type='text'>Belajar dari paku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQruEZAuQI/AAAAAAAAACA/IsxUuvIrLO8/s1600-h/pagar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQruEZAuQI/AAAAAAAAACA/IsxUuvIrLO8/s320/pagar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5027191154504939778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah. Lalu secara bertahap jumlah itu berkurang. Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar. Akhirnya tibalah hari dimana anak tersebut merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. “Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi, lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. “Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini. di hati orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu. Tetapi tidak peduli beberapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada. Dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-5419322660746934470?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/5419322660746934470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/5419322660746934470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/02/belajar-dari-paku.html' title='Belajar dari paku'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQruEZAuQI/AAAAAAAAACA/IsxUuvIrLO8/s72-c/pagar.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-791802052689990137</id><published>2007-02-02T21:21:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T09:14:25.478-08:00</updated><title type='text'>Telaga dan Garam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQelUZAuGI/AAAAAAAAAAM/czF85ggvrJ4/s1600-h/danau.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQelUZAuGI/AAAAAAAAAAM/czF85ggvrJ4/s320/danau.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5027176710529923170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dahulu kala, hiduplah seorang guru yang terkenal bijaksana. Pada suatu pagi, datanglah seorang pemuda dengan langkah lunglai dan rambut masai. Pemuda itu sepertinya tengah dirundung masalah. Tanpa membuang waktu, dia mengungkapkan keresahannya: impiannya gagal, karier, cinta, dan hidupnya tak pernah berakhir bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Guru mendengarkannya dengan teliti dan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Dia taburkan garam itu ke dalam gelas, lalu dia aduk dengan sendok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Coba minum ini, dan katakan bagaimana rasanya?” pinta Sang Guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Asin dan pahit, pahit sekali,” jawab pemuda itu, sembari meludah ke tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Guru hanya tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya berjalan ke tepi telaga di hutan dekat kediamannya. Kedua orang itu berjalan beriringan dalam kediaman. Sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Sang Guru lalu menaburkan segenggam garam tadi ke dalam telaga. Dengan sebilah kayu, diaduknya air telaga, membuat gelombang dan riak kecil. Setelah air telaga tenang, ia pun berkata, “Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat tamu itu selesai meneguk air telaga, Sang Guru bertanya, “Bagaimana rasanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segar,” sahut pemuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kamu masih merasakan garam di dalam air itu?” tanya Sang Guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak,” jawab si anak muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Guru menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk bersimpuh di tepi telaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan seumpama segenggam garam. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. Tetapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah atau tempat yang kita pakai. Kepahitan itu, selalu berasal dari bagaimana cara kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan atau kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang boleh kamu lakukan: lapangkanlah dadamu untuk menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu. Luaskan cara pandang terhadap kehidupan. Kamu akan banyak belajar dari keluasan itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hatimu anakku, adalah wadah itu. Batinmu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah hatimu seluas telaga yang mampu meredam setiap kepahitan. Hati yang seluas dunia!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya beranjak pulang. Sang Guru masih menyimpan “segenggam garam” untuk orang-orang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman2ku lapangkanlah hati kita, pikiran kita, jadikanlah hati kita seluas dunia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-791802052689990137?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/791802052689990137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/791802052689990137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/02/telaga-dan-garam.html' title='Telaga dan Garam'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQelUZAuGI/AAAAAAAAAAM/czF85ggvrJ4/s72-c/danau.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-117039392500938872</id><published>2007-02-01T21:24:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T09:14:25.651-08:00</updated><title type='text'>Senangkan Orang Tua Semasa Hidup!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQfgUZAuHI/AAAAAAAAAAY/spoP23lTWWA/s1600-h/orangtua.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQfgUZAuHI/AAAAAAAAAAY/spoP23lTWWA/s320/orangtua.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5027177724142205042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Usia ayah telah mencapai 70 tahun, namun tubuhnya masih kuat. Dia mampu mengendarai sepeda ke pasar yang jauhnya lebih kurang 2 kilometer untuk belanja keperluan sehari-hari. Sejak meninggalnya ibu pada 6 tahun lalu, ayah sendirian di kampung. Oleh karena itu kami kakak-beradik 5 orang bergiliran menjenguknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami semua sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari kampung halaman di Teluk Intan. Sebagai anak sulung, saya memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Setiap kali saya menjenguknya, setiap kali itulah istri saya mengajaknya tinggal bersama kami di Kuala Lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak usah. lain kali saja.!"jawab ayah. Jawaban itu yang selalu diberikan kepada kami saat mengajaknya pindah. Kadang-kadang ayah mengalah dan mau menginap bersama kami, namun 2 hari kemudian dia minta diantar balik. Ada-ada saja alasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Januari lalu, ayah mau ikut saya ke Kuala Lumpur. Kebetulan sekolah masih libur, maka anak-anak saya sering bermain dan bersenda-gurau dengan kakek mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki hari ketiga, ia mulai minta pulang. Seperti biasa, ada-ada saja alasan yang diberikannya. "Saya sibuk, ayah. tak boleh ambil cuti. Tunggulah sebentar lagi. akhir minggu ini saya akan antar ayah," balas saya. Anak-anak saya ikut membujuk kakek mereka. "Biarlah ayah pulang sendiri jika kamu sibuk. Tolong belikan tiket bus saja yah." katanya yang membuat saya bertambah kesal. Memang ayah pernah berkali-kali pulang naik bus sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak usah saja yah." bujuk saya saat makan malam. Ayah diam dan lalu masuk ke kamar bersama cucu-cucunya. Esok paginya saat saya hendak berangkat ke kantor, ayah sekali lagi minta saya untuk membelikannya tiket bus. "Ayah ini benar-benar nggak mau mengerti yah. saya sedang sibuk, sibuuukkkk!!!" balas saya terus keluar menghidupkan mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tinggalkan ayah terdiam di muka pintu. Sedih hati saya melihat mukanya. Di dalam mobil, istri saya lalu berkata, "Mengapa bersikap kasar kepada ayah? Bicaralah baik-baik! Kasihan khan dia.!" Saya terus membisu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum istri saya turun setibanya di kantor, dia berpesan agar saya penuhi permintaan ayah. "Jangan lupa, bang.. belikan tiket buat ayah," katanya singkat. Di kantor saya termenung cukup lama. Lalu saya meminta ijin untuk keluar kantor membeli tiket bus buat ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pk. 11.00 pagi saya tiba di rumah dan minta ayah untuk bersiap. "Bus berangkat pk. 14.00," kata saya singkat. Saya memang saat itu bersikap agak kasar karena didorong rasa marah akibat sikap keras kepala ayah. Ayah tanpa banyak bicara lalu segera berbenah. Dia masukkan baju-bajunya kedalam tas dan kami berangkat. Selama dalam perjalanan, kami tak berbicara sepatah kata pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu ayah tahu bahwa saya sedang marah. Ia pun enggan menyapa saya.! Setibanya di stasiun, saya lalu mengantarnya ke bus. Setelah itu saya Pamit dan terus turun dari bus. Ayah tidak mau melihat saya, matanya memandang keluar jendela. Setelah bus berangkat, saya lalu kembali ke mobil. Saat melewati halaman stasiun, saya melihat tumpukan kue pisang di atas meja dagangan dekat stasiun. Langkah saya lalu terhenti dan teringat ayah yang sangat menyukai kue itu. Setiap kali ia pulang ke kampung, ia selalu minta dibelikan kue itu. Tapi hari itu ayah tidak minta apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lalu segera pulang. Tiba di rumah, perasaan menjadi tak menentu. Ingat pekerjaan di kantor, ingat ayah yang sedang dalam perjalanan, ingat Istri yang berada di kantornya. Malam itu sekali lagi saya mempertahankan ego saya saat istri meminta saya menelpon ayah di kampung seperti yang biasa saya lakukan setiap kali ayah pulang dengan bus. Malam berikutnya, istri bertanya lagi apakah ayah sudah saya hubungi. "Nggak mungkin belum tiba," jawab saya sambil meninggikan suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dini hari itu, saya menerima telepon dari rumah sakit Teluk Intan. "Ayah sudah tiada." kata sepupu saya disana. "Beliau meninggal 5 menit yang lalu setelah mengalami sesak nafas saat Maghrib tadi." Ia lalu meminta saya agar segera pulang. Saya lalu jatuh terduduk di lantai dengan gagang telepon masih di tangan. Istri lalu segera datang dan bertanya, "Ada apa, bang?" Saya hanya menggeleng-geleng dan setelah agak lama baru bisa berkata, "Ayah sudah tiada!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di kampung, saya tak henti-hentinya menangis. Barulah saat Itu saya sadar betapa berharganya seorang ayah dalam hidup ini. Kue pisang, kata-kata saya kepada ayah, sikapnya sewaktu di rumah, kata-kata istri mengenai ayah silih berganti menyerbu pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Allah yang tahu betapa luluhnya hati saya jika teringat hal itu. Saya sangat merasa kehilangan ayah yang pernah menjadi tempat saya mencurahkan perasaan, seorang teman yang sangat pengertian dan ayah yang sangat mengerti akan anak-anaknya. Mengapa saya tidak dapat merasakan perasaan seorang tua yang merindukan belaian kasih sayang anak-anaknya sebelum meninggalkannya buat selama-lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang 5 tahun telah berlalu. Setiap kali pulang ke kampung, hati saya bagai terobek-robek saat memandang nisan di atas pusara ayah. Saya tidak dapat menahan air mata jika teringat semua peristiwa pada saat-saat akhir saya bersamanya. Saya merasa sangat bersalah dan tidak dapat memaafkan diri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar kata orang, kalau hendak berbakti sebaiknya sewaktu ayah dan ibu masih hidup. Jika sudah tiada, menangis airmata darah sekalipun tidak berarti lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada pembaca yang masih memiliki orangtua, jagalah perasaan mereka. Kasihilah mereka sebagaimana mereka merawat kita sewaktu kecil dulu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-117039392500938872?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/117039392500938872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/117039392500938872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/02/senangkan-orang-tua-semasa-hidup.html' title='Senangkan Orang Tua Semasa Hidup!'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQfgUZAuHI/AAAAAAAAAAY/spoP23lTWWA/s72-c/orangtua.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-117039363988407526</id><published>2007-02-01T21:20:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T09:14:25.784-08:00</updated><title type='text'>Kisah Penjual Ikan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQhsEZAuII/AAAAAAAAAAk/PNpd4qDWXs4/s1600-h/jualikan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQhsEZAuII/AAAAAAAAAAk/PNpd4qDWXs4/s320/jualikan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5027180125028923522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Seseorang mulai berjualan ikan segar di pasar. Ia memasang papan pengumuman bertuliskan" Disini Jual Ikan Segar". Tidak lama kemudian datanglah seorang pengunjung yang menanyakan tentang tulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa kau tuliskan kata: DISINI? Bukankah semua orang sudah tahu kalau kau berjualan DISINI, bukan DISANA?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar juga!" pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata "DISINI" dan&lt;br /&gt;tinggallah tulisan "JUAL IKAN SEGAR".&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian datang pengunjung kedua yang juga menanyakan&lt;br /&gt;tulisannya. "Mengapa kau pakai kata SEGAR? Bukankah semua orang sudah tahu kalau yang kau jual adalah ikan segar, bukan ikan busuk?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar juga" pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata "SEGAR" dan&lt;br /&gt;tinggallah tulisan "JUAL IKAN".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian datanglah pengunjung ke tiga yang juga menanyakan&lt;br /&gt;tulisannya: "Mengapa kau tulis kata JUAL? Bukankah semua orang sudah tahu kalau ikan ini untuk dijual, bukan dipamerkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar juga pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata JUAL dan tinggallah tulisan "IKAN".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa waktu kemudian, datang pengunjung ke 4, yang juga menanyakan tulisannya: "Mengapa kau tulis kata IKAN? Bukankah semua orang sudah tahu kalau ini Ikan bukan Daging?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar juga" pikir si penjual ikan, lalu diturunkannya papan pengumuman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan: Bila kita ingin memuaskan semua orang, kita tidak akan mendapatkan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-117039363988407526?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/117039363988407526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/117039363988407526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/02/kisah-penjual-ikan.html' title='Kisah Penjual Ikan'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQhsEZAuII/AAAAAAAAAAk/PNpd4qDWXs4/s72-c/jualikan.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-117039301153766406</id><published>2007-02-01T21:09:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T09:14:25.857-08:00</updated><title type='text'>Kisah Tukang Pisang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQit0ZAuJI/AAAAAAAAAAw/8wANpTgLzIU/s1600-h/tukangpisang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQit0ZAuJI/AAAAAAAAAAw/8wANpTgLzIU/s320/tukangpisang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5027181254605322386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Seperti biasanya malam itu (sekitar pkl 21.30 wib)saya dan dua orang tetangga kompleksku ngobrol di gardu siskamling samping rumahku. sedang asyik kami ngobrol-ngobrol, dari soal politik, olah raga sampe masalah warga kompleks dibahas dengan lugas layaknya talk show di TV-tv yang sedang marak, lewatlah seorang tukang pisang dengan ditemani seorang bocah seumuran anak SD, menjajakan daganganya. "pisang...pisang..." begitu teriaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhenti sejenak obrolan kami mengamati si tukang pisang tersebut, muncul beberapa pertanyaan diantara kami; "mengapa sudah malam begini masih ada saja tukang pisang keliling?" celetuk salah satu tetangga sebut saja dedi, "kenapa bawa anak kecil segala?" tandas Eri tetangga ku dengan kritisnya. "ada apa keranjang pisangnya dipegangi anaknya itu?" tanyaku dengan penuh selidik.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami mencoba menegurnya; "wah, malam-malam masih ada pisang ya mang?" tanyaku. "iya pak,ada pisang raja dan ambon, masih seger dan masak dipohon pak" sahut si tukang pisang. "ini anak mamang?" tanya Dedi."iya pak, anak saya yang ke dua." sahutnya."kok malam-malam ikut jualan apa tidak belajar?" tanya Eri penasaran. "sudah belajar pak tadi sore sebelum ngater bapak jualan" jawab anak itu. "Kok Bapak malam-malam masih jualan bawa anak lagi, apa gak kasihan anak Bapak kan besok pagi-pagi harus ke sekolah" tanya ku. "Bapak saya buta, jadi terpaksa harus diantar kalau mau julan keliling pak" sahut anak itu menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami begitu kaget mendengar penjelasan seorang bocah ingusan yang begitu berbakti kepada orang tuanya yang sedang berusaha itu. Bagaimana tidak, seorang penjual pisang sampai malam begitu dia keliling kompleks ditemani anaknya yang sesuai SD itu. "Bapak kalau pagi mangkal di dekat pasar, selepas ashar beliau keliling komplek pak, untuk menjual sisa dagangya". timpal anak itu. itu semua dilakukan demi menghidupi dua anak dan sang istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan rasa simpati kami saling bisik-bisik untuk membelinya. karena begitu terharu saya dan dua orang tetanggaku membeli pisang dengan melebihkan pembayaran dari harga yang ditawarkanya. Tapi apa yang kami lakukan rupanya mendapat tanggapan berbeda dari si tukang pisang. "ini pak, kembalianya Rp seribu." tukas si tukang pisang." sudah buat bapak dan anak bapak saja" jawab kami serempak tanpa sadar. "maaf pak saya jualan bukan pengemis", sahutnya. dia mengembalikan semua kelebihan uang kami yang sebenarnya sengaja kami berikan. kemudian si tukang pisang permisi dan pergi bersama anaknya menjajakan daganganya sembari menuju pulang ke kampungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbetik dalam sanubari kami masing-masing, masih ada orang jujur &amp; mulia di dunia ini. uang lebih seribu rupiah pun tidak dia terima (karena bukan haknya) demi harga diri dan prinsip yang begitu luhur, "saya jualan bukan pengemis pak" dinyatakan oleh seorang tukang pisang yang buta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua pelajaran berharga yang kita bisa petik dari kisah tersebut; pertama seandainya mental itu (tidak rakus pada harta yang bukan haknya) ada disanubari semua penjabat kita tentu triliunan rupiah uang negara (rakyat) yang bisa diselamatkan di negeri ini untuk mensejahterakan umat, tidak terkecuali kita juga tentunya. kedua betapa optimisnya si tukang pisang, dengan kondisi yang buta dia keliling kompleks sampe larut malam mencari rejeki, sementara kita orang yang lebih beruntung (mata normal) mungkin sudah santai nonton tv atau beranjak tidur. semoga kita bisa lebih mensyukuri nikmat dan anugerah Tuhan kepada kita semua.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-117039301153766406?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/117039301153766406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/117039301153766406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/02/kisah-tukang-pisang.html' title='Kisah Tukang Pisang'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQit0ZAuJI/AAAAAAAAAAw/8wANpTgLzIU/s72-c/tukangpisang.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-117039280979926620</id><published>2007-02-01T21:05:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T09:14:25.989-08:00</updated><title type='text'>Segitiga Bermuda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQj-UZAuLI/AAAAAAAAABI/sxLGlrJEaOU/s1600-h/bermuda.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQj-UZAuLI/AAAAAAAAABI/sxLGlrJEaOU/s320/bermuda.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5027182637584791730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tak semua pertanyaan ada jawabannya. Demikian pula dengan sejumlah peristiwa dan fenomena alam di bumi ini. Tak semua (belum) bisa dijelaskan. Misteri hilangnya pesawat Adam Air beberapa waktu yang lalu semakin menguatkan fenomena (meta)fisika ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Anda yang gemar kisah misteri, pasti mengenal Segitiga Bermuda. Wilayah laut di selatan Amerika Serikat dengan titik sudut Miami (di Florida), Puerto Rico (Jamaica), dan Bermuda ini, telah berabad-abad menyimpan kisah yang tak terpecahkan. Misteri demi misteri bahkan telah dicatat oleh pengelana samudera macam Christopher Columbus. Sekitar 1492, ketika dirinya akan mengakhiri perjalanan jauhnya menuju dunia barunya, Amerika, Columbus sempat menyaksikan fenomena aneh di wilayah ini. Di tengah suasana laut yang terasa aneh, jarum kompas di kapalnya beberapa kali berubah-ubah. Padahal cuaca saat itu begitu baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, tak jauh dari kapal, pada suatu malam tiba-tiba para awaknya dikejutkan dengan munculnya bola-bola api yang terjun begitu saja ke dalam laut. Mereka juga menyaksikan lintasan cahaya dari arah ufuk yang kemudian menghilang begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Segitiga Bermuda. Di wilayah ini, indera keenam memang seperti dihantui 'suasana' yang tak biasa. Namun begitu rombongan Columbus masih terbilang beruntung, karena hanya disuguhi 'pertunjukkan'. Lain dengan pelintas-pelintas yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menurut catatan kebaharian, peristiwa terbesar yang pernah terjadi di wilayah ini adalah lenyapnya sebuah kapal berbendera Inggris, Atalanta, pada 1880. Tanpa jejak secuilpun, kapal yang ditumpangi tiga ratus kadet dan perwira AL Inggris itu raib di sana. Selain Atalanta, Segitiga Bermuda juga telah menelan ratusan kapal lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain kisah, Segitiga Bermuda juga telah membungkam puluhan pesawat yang melintasinya. Peristiwa terbesar yang kemudian terkuak sekitar 1990 lalu adalah raibnya iring-iringan lima Grumman TBF Avenger AL AS yang tengah berpatroli melintas wilayah laut ini pada siang hari 5 Desember 1945. Setelah sekitar dua jam penerbangan komandan penerbangan melapor, bahwa dirinya dan anak buahnya seperti mengalami disorientasi. Beberapa menit kemudian kelima TBF Avenger ini pun raib tanpa sempat memberi sinyal SOS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, misteri Avenger tak berujung di situ saja. Ketika sebuah pesawat SAR jenis Martin PBM-3 Mariner dikirim mencarinya, pesawat amfibi gembrot dengan tigabelas awak ini pun ikut-ikutan lenyap. Hilang bak ditelan udara. Keesokan harinya ketika wilayah-wilayah laut yang diduga menjadi tempat kecelakaan keenam pesawat disapu enam pesawat penyelamat pantai dengan 27 awak, tak satu pun serpihan pesawat ditemukan. Ajaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun demi tahun berlalu. Sekitar 1990, tanpa dinyana seorang peneliti berhasil menemukan onggokan kerangka pesawat di lepas pantai Fort Launderdale, Florida. Betapa terkejutnya orang-orang yang menyaksikan. Karena, ketika dicocok kan, onggokan metal itu ternyata bagian dari kelima TBF Avenger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilangnya C-119&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ajaib lainnya adalah hilangnya pesawat transpor C-119 Flying Boxcar pada 7 Juni 1965. Pesawat tambun mesin ganda milik AU AS bermuatan kargo ini, hari itu pukul 7.47 lepas landas dari Lanud Homestead. Pesawat dengan 10 awak ini terbang menuju Lapangan Terbang Grand Turk, Bahama, dan diharapkan mendarat pukul 11.23.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesawat ini sebenarnya hampir menuntaskan perjalanannya. Hal ini diketahui dari kontak radio yang masih terdengar hingga pukul 11. Sesungguhnya memang tak ada yang mencurigakan. Kerusakan teknis juga tak pernah dilaporkan. Tetapi Boxcar tak pernah sampai tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam kontak radio terakhir tak ada indikasi apa-apa bahwa pesawat tengah mengalami masalah. Namun setelah itu kami kehilangan jejaknya," begitu ungkap juru bicara Penyelamat Pantai Miami. "Besar kemungkinan pesawat mengalami masalah kendali arah (steering trouble) hingga nyasar ke lain arah," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu pula tim SAR terbang menyapu wilayah seluas 100.000 mil persegi yang diduga menjadi tempat kandasnya C-119. Namun hasilnya benar-benar nihil. Sama seperti hilangnya pesawat-pesawat lainnya di wilayah ini, tak satu pun serpihan pesawat atau tubuh manusia ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar-benar aneh. Sebuah pesawat terbang ke arah selatan Bahama dan hilang begitu saja tanpa jejak," demikian komentar seorang veteran penerbang Perang Dunia II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang dari Tim SAR mengatakan, kemungkinan pesawat jatuh di antara Pulau Crooked dan Grand Turk. Bisa karena masalah struktur, ledakan, atau kerusakan mesin. Kalau memang pesawat meledak, kontak radio memang pasti tak akan pernah terjadi, tetapi seharusnya kami bisa menemukan serpihan pecahannya. Begitu pula jika pesawat mengalami kerusakan, mestinya sang pilot bisa melakukan ditching (pendaratan darurat di atas air). Pasalnya, cuaca saat itu dalam keadaan baik. Dalam arti langit cerah, ombak hanya sekitar satu meter, dan angin hanya 15 knot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis selanjutnya memang mengembang kemana-mana. Namun tetap tidak menghasilkan apa-apa. Kasus C-119 Flying Boxcar pun terpendam begitu saja, sampai akhirnya pada tahun 1973 terbit artikel dari International UFO Bureau yang mengingatkan kembali sejumlah orang pada kasus ajaib tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam artikel ini dimuat kesaksian astronot Gemini IV, James McDivitt dan Edward H. White II, yang justru membuat runyam masalah. Rupanya pada saat-saat di sekitar raibnya C-119, dia kebetulan tengah mengamati wilayah di sekitar Karibia. Gemini kebetulan memang sedang mengawang-awang di sana. Menurut catatan NASA, pada 3 sampai 7 Juni 1965 keduanya tengah melakukan eksperimen jalan-jalan ke luar kapsul Gemini dengan perlengkapan yang dirahasiakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Divitt, dia melihat sebuah pesawat tak dikenal (UFO) dengan semacam lengan mekanik kedapatan sedang meluncur di atas Karibia. Beberapa menit kemudian Ed White pun menyaksikan obyek lainnya yang serupa. Sejak itulah lalu merebak isu, C-119 diculik UFO. Para ilmuwan pun segera tertarik menguji kesaksian ini. Tak mau percaya begitu saja, mereka mengkonfirmasi obyek yang dilihat kedua astronot dengan satelit-satelit yang ada disekitar Gemini IV. Boleh jadi 'kan yang mereka salah lihat ? Maklum saat itu (hingga kini pun), banyak pihak masih menilai sektis terhadap kehadiran UFO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu kepada kedua astronot disodori gambar Pegasus 2, satelit raksasa yang memang memiliki antene mirip lengan sepanjang 32 meter dan sejumlah sampah satelit yang ada di sekitar itu. Namun baik dari bentuk dan jarak, mereka menyanggah jika telah salah lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekali lagi saya tegaskan, dengan menyebut UFO 'kan tak berarti saya menunjuk pesawat ruang angkasa dari planet lain. Pengertian UFO sangat universal. Bahwa jika saya melihat pesawat yang menurut penilaian saya tak saya kenal, tidakkah layak jika saya menyebutnya sebagai UFO?" sergah Divitt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kasus C-119 Flying Boxcar yang tak pernah terpecahkan hingga kini. Diantara kapal atau pesawat yang raib di wilayah Segitiga Bermuda kisahnya memang senantiasa sama. Terjadi ketika cuaca sedang baik, tak ada masalah teknis, kontak radio berjalan biasa, tetapi si pelintas tiba-tiba menghilang begitu saja. Tanpa meninggalkan jejak sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak teori kemudian dihubung-hubungkan dengan segala kejadian di sana. Ada yang menyebut teori pelengkungan waktu, medan gravitasi terbalik, abrasi atmosfer, dan ada juga teori anomali magnetik-gravitasi. Selain itu ada juga yang mengaitkannya dengan fenomena gampa laut, serangan gelombang tidal, hingga lubang hitam (black-hole) yang hanya terjadi di angkasa luar sana. Aneh-aneh memang analisanya, namun tetap saja tak ada satu pun yang bisa menjelaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : www.angkasa-online.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-117039280979926620?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/117039280979926620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/117039280979926620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/02/segitiga-bermuda.html' title='Segitiga Bermuda'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQj-UZAuLI/AAAAAAAAABI/sxLGlrJEaOU/s72-c/bermuda.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-117032333975172844</id><published>2007-02-01T01:48:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T09:14:26.044-08:00</updated><title type='text'>Mari Kita Renungkan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQlPkZAuMI/AAAAAAAAABU/0Hj2DLrF8yw/s1600-h/merenung.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQlPkZAuMI/AAAAAAAAABU/0Hj2DLrF8yw/s320/merenung.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5027184033449162946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sssssstt ...&lt;br /&gt;Anda yang saat ini berdiri tegak, berjalan dengan kepala terangkat, merendahlah, duduklah barang sesaat untuk dapat melihat orang-orang disekitar yang tengah merangkak, terkapar, bahkan sekarat diterjang kefakiran, ketidakpunyaan, kebodohan, kemaksiatan dan ketertindasan.&lt;br /&gt;Bukankah hanya dengan merendah semua bentuk keprihatinan akan terlihat dengan jelas oleh mereka yang berdiri. Dan bukankah jika terus berdiri mata ini hanya akan lebih  terfokus menatap ke depan sehingga tak jarang kita lupa untuk sesekali saja melihat ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar mengingatkan, tanpa disadari, harta, keluarga yang bahagia, jabatan dan kehidupan yang mapan tak jarang membangun ketinggian hati dan menjulangkan menara harga diri sehingga seringkali kita lupa bahkan enggan duduk merendah, menyapa dan mengulurkan tangan kepada mereka yang sudah terbiasa menganga menahan haus dan lapar, terbelalak menyaksikan pameran kekayaan yang seringkali kita pertontonkan di hadapan mereka, melewati piring-piring kaleng kosong dan mangkuk-mangkuk plastik tempat menaruh receh di pinggir jalan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali  lagi, berhentilah, duduklah barang sesaat agar nampak jelas apa yang semestinya kita perbuat, agar lebih terdengar suara-suara berbicara dihati ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda yang sering berdiri di mimbar-mimbar membicarakan kebenaran, meneriakkan keadilan, menentang keserakahan dan kezhaliman, berhentilah berbicara sementara waktu ini. Sentuhlah ketidakbenaran dengan hati dan tangan, agar kemudian dapat terkurangi bentuk-bentuk ketidakadilan dimuka bumi, setidaknya yang nampak didepan mata kepala kita, agar tidak lebih banyak lagi ketertindasan, dan juga kezhaliman. Berhentilah berbicara kebenaran jika kita tidak berbuat apa-apa terhadap parade kemaksiatan yang terpampang jelas di hadapan kita. Urungkanlah bicara kepedulian jika melintas di mata ini orang- orang menengadah memohon belas kasihan tetapi tak sedikitpun tangan ini tergerak untuk diulurkan. Pikirkanlah sekian kali lagi untuk berbicara soal runtuhnya moral selama kita sebenarnya tak pernah bersungguh-sungguh untuk membangunnya kembali,  karena yang kita lakukan adalah sekedar berbicara dan berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah duduk bersama kemudian sementara waktu berhenti berbicara, sekarang tetaplah diam barang sekejap dan pejamkanlah mata ini.&lt;br /&gt;Bayangkanlah amal-amal yang telah kita kerjakan, bentuk-bentuk kebaikan yang sudah dilakukan, tak mengapa, justru dengan itu kita akan terus bersemangat untuk terus  melakukan hal-hal kebaikan itu lebih dari yang sudah. Lanjutkan bayangan itu dengan menghadirkan apa- apa yang belum tersentuh, terlaksana dan atau belum  sempat kita perbuat, dan menangislah, karena sesungguhnya masih banyak hal kebaikan yang belum kita kerjakan. Mungkin memang, sudah banyak hal baik dan benar yang terangkai rapih dan indah dari tangan-tangan ini.&lt;br /&gt;Tetapi sungguh, masih  jauh lebih banyak yang belum kita perbuat.&lt;br /&gt;Jangan biarkan hati ini tertutup sehingga semakin berat langkah- langkah ini terayun dan tangan-tangan ini tergerak untuk membuat bakti lebih baik, lebih banyak dan berkesinambungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menganugerahkan kita satu mulut sementara dua telinga Dia berikan untuk dapat kita pahami agar sebaiknya kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Oleh karena itu, marilah kita mencoba untuk lebih banyak mendengar. Jika sering sudah kita memberi petuah, nasihat kepada orang lain, sekarang barang sebentar saja, dengarkanlah mereka berbicara. Untuk dapat mendengarkan suara mereka, bukalah hati ini karena sesungguhnya bukan apa yang  terdengar keluar dari mulut mereka, tetapi terpenting adalah mendengarkan hati  mereka berbicara. Sungguh, kita akan tahu lebih banyak kenapa mereka berbuat maksiat, berbuat jahat, zhalim dan karena apa mereka melakukannya, apa yang mendorongnya sehingga kita pun tahu apa yang kemudian kita berikan kepada mereka. Dengarkan jeritan-jeritan hati kaum yang tertindas, sungguh, jeritan hati mereka pun akan menusuk dan menggedor dada ini untuk tergerak mengulurkan tangan, berbuat dan terus berbuat untuk kaum fakir dan anak-anak yatim itu. Sekejap ini, dengarkanlah juga mereka berbicara tentang kehidupan, sungguh, kita akan jauh lebih memahami hakikat kesederhanaan dan kesahajaan, makna kerendahan hati dan qona'ah, serta belajar dari mereka tentang bagaimana berjuang yang sesungguhnya dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kemudian, bangkitlah, berdirilah kembali dan teruskanlah perjalanan setelah sekian kali kita menyempatkan diri untuk duduk, berhenti bicara, diam dan mendengarkan orang-orang yang sudah terlalu kenyang dengan nasihat, celoteh dan janji-janji kita. Namun jangan lupa, ketika berdiri dan melangkah  maju, ajaklah orang-orang yang tadi duduk bersama kita, papahlah mereka yang suara-suara baru saja kita dengarkan, bantulah mereka berdiri, ajarkan kepada mereka berjalan untuk maju dan jangan sekali-sekali meninggalkan mereka, karena bisa jadi, sekali kita melupakan dan meninggalkan jauh mereka di belakang kita, itu sama dengan kita membuang kunci surga yang sudah digenggaman.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-117032333975172844?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/117032333975172844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/117032333975172844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/02/mari-kita-renungkan.html' title='Mari Kita Renungkan'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQlPkZAuMI/AAAAAAAAABU/0Hj2DLrF8yw/s72-c/merenung.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-117032323807397174</id><published>2007-02-01T01:46:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T09:14:26.194-08:00</updated><title type='text'>Lakukanlah dengan Kebaikan Hati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQjbkZAuKI/AAAAAAAAAA8/GoIg2yhvUSg/s1600-h/abdullah_gymnastiar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQjbkZAuKI/AAAAAAAAAA8/GoIg2yhvUSg/s320/abdullah_gymnastiar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5027182040584337570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Lakukanlah dengan Kebaikan Hati&lt;br /&gt;                                                     &lt;br /&gt;Apa pun yang anda lakukan, lakukanlah dengan kebaikan hati.&lt;br /&gt;Keberhasilan bukan semata-mata karena kekuatan otot dan ketajaman pikiran.&lt;br /&gt;Anda perlu bertindak dengan kelembutan hati.&lt;br /&gt;Sukses tidak selalu dibangun di atas upaya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik semua pencapaian, terselip pengorbanan orang lain.&lt;br /&gt;Hanya bila anda melakukannya dengan kebaikan hati, siapa pun rela berkorban untuk keberhasilan anda.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang bijak berujar: "Bila busur anda patah dan anak panah penghabisan telah dilontarkan, tetaplah membidik. Bidiklah dengan seluruh hatimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tindakan anda bagaikan bumerang yang akan kembali pada anda.&lt;br /&gt;Bila anda melempar dengan baik, ia akan kembali dalam tangkapan anda.&lt;br /&gt;Namun, bila anda ceroboh melemparkannya, ia akan datang untuk melukai anda.&lt;br /&gt;Renungkan bagaimana tindakan anda sekarang ini.&lt;br /&gt;Lakukan segala semuanya dengan tulus dan penuh kasih.&lt;br /&gt;Tiada yang lebih manis daripada memetik buah atas kebaikan yang anda lakukan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-117032323807397174?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/117032323807397174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/117032323807397174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/02/lakukanlah-dengan-kebaikan-hati.html' title='Lakukanlah dengan Kebaikan Hati'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQjbkZAuKI/AAAAAAAAAA8/GoIg2yhvUSg/s72-c/abdullah_gymnastiar.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38785947.post-117031720322659428</id><published>2007-02-01T00:05:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T09:14:26.376-08:00</updated><title type='text'>Gila !!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQmnUZAuPI/AAAAAAAAAB0/kB58GFvWoBo/s1600-h/monyet.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQmnUZAuPI/AAAAAAAAAB0/kB58GFvWoBo/s320/monyet.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5027185540982683890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Gila!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, gila diartikan sebagai sakit&lt;br /&gt;ingatan, sakit jiwa, sarafnya terganggu atau pikirannya tidak normal;&lt;br /&gt;tidak biasa, tidak sebagaimana mestinya, berbuat yang bukan-bukan;&lt;br /&gt;terlalu, kurang ajar, ungkapan kagum; atau dapat juga berarti&lt;br /&gt;terlanda perasaan sangat suka. Jadi memang pemakaian kata gila tidak&lt;br /&gt;melulu identik dengan seseorang yang sakit ingatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari terakhir ini, media massa ramai memberitakan&lt;br /&gt;kasus "menghilangnya" pesawat Adam Air rute Surabaya-Manado yang&lt;br /&gt;belum ditemukan. Nasib 102 penumpang dan awak pesawat itu hingga kini&lt;br /&gt;masih tak tentu rimbanya. Ketika dikabarkan pesawat Adam Air jatuh di&lt;br /&gt;Desa Rangoan, Sulawesi Barat, semua perhatian segera mengarah ke&lt;br /&gt;lokasi tersebut. Informasi ini sulit untuk tidak dipercaya, karena&lt;br /&gt;cukup detail. Ketika teman saya tahu bahwa informasi tersebut hanya&lt;br /&gt;hoax belaka, ia hanya bisa bergumam, "Gila!"&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditujukan kepada apa atau siapa ungkapan tersebut, saya tidak tahu.&lt;br /&gt;Apakah ditujukan kepada orang yang menyebarkan berita bohong tersebut&lt;br /&gt;atau kepada pemerintah yang percaya mentah-mentah berita tersebut&lt;br /&gt;tanpa perlu melakukan check and recheck terlebih dulu? Dan ketika&lt;br /&gt;membaca ulasan di media yang memberitakan bujet perawatan pesawat&lt;br /&gt;dibikin cekak untuk menaikkan keuntungan bisnis mereka, dus,&lt;br /&gt;keselamatan penumpang diabaikan, lagi-lagi teman saya menggumam untuk&lt;br /&gt;yang kedua kalinya, "Gila!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir 2006, kita dikejutkan oleh berita keterlambatan pengiriman&lt;br /&gt;katering jemaah haji Indonesia di Tanah Suci. Sekitar 200 ribu&lt;br /&gt;anggota jemaah haji asal Indonesia harus menahan lapar lebih dari 30&lt;br /&gt;jam. Sepanjang sejarah pengelolaan haji yang sudah dilakukan&lt;br /&gt;pemerintah selama berpuluh tahun, baru kali inilah manajemen&lt;br /&gt;kateringnya amburadul. Teman saya pun tak bisa tidak untuk&lt;br /&gt;berkomentar "gila!" untuk kasus ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika rakyat di beberapa daerah terpaksa makan nasi aking hanya&lt;br /&gt;untuk sekadar bertahan hidup, pada saat yang bersamaan diberitakan&lt;br /&gt;gaji para anggota DPRD naik sebesar dua kali lipat dari sekarang. Hal&lt;br /&gt;itu terjadi setelah Presiden Yudhoyono menandatangani Peraturan&lt;br /&gt;Pemerintah Nomor 37 Tahun 2006 pada November lalu. Peraturan tersebut&lt;br /&gt;mengamanatkan dua tambahan tunjangan bagi anggota DPRD, yaitu&lt;br /&gt;tunjangan komunikasi intensif dan dana operasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenaikan gila-gilaan dialami ketua dan wakil ketua DPRD. Selain&lt;br /&gt;mendapatkan tunjangan komunikasi intensif sebesar Rp 9 juta, ketua&lt;br /&gt;DPRD masih mendapatkan dana operasional yang mencapai Rp 18 juta,&lt;br /&gt;sedangkan wakil ketua mendapat dana operasional Rp 9,6 juta! Banyak&lt;br /&gt;orang kemudian geleng-geleng kepala dan kembali saya mendengar (bukan&lt;br /&gt;hanya satu) orang berkomentar, "Gila!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hari ke hari, kita disuguhi berita-berita yang tidak hanya dapat&lt;br /&gt;membuat kita mengurut dada, tapi juga sering mendorong kita untuk&lt;br /&gt;berkomentar, "Gila!" Cerita getir memilukan (bahkan kadang memalukan)&lt;br /&gt;dari berbagai pelosok negeri ini datang silih berganti. Masyarakat&lt;br /&gt;pun cenderung bersikap permissiveness. Hari ini menjadi headline,&lt;br /&gt;esok hari sudah tidak dibicarakan atau bahkan dilupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini tampak diperparah dengan makin bertambahnya jumlah&lt;br /&gt;penganggur di Indonesia. Dalam penelitiannya, Profesor M. Harvey&lt;br /&gt;Brenner dari Universitas John Hopkins mengemukakan, untuk setiap&lt;br /&gt;kenaikan 1 persen angka pengangguran, tercatat kenaikan 1,9 persen&lt;br /&gt;penyakit jantung, 4,1 persen bunuh diri, dan 4,3 persen pasien baru&lt;br /&gt;di rumah sakit jiwa. Jangan-jangan, dengan "kegilaan" yang melanda&lt;br /&gt;republik ini, persentase dari hasil studi Brenner bisa berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Konvensi Nasional Kesehatan Jiwa Ontoseno menuturkan gejala&lt;br /&gt;sakit jiwa yang dialami penderitanya, antara lain mudah melakukan&lt;br /&gt;kekerasan seperti membakar atau menggebuki pencuri sampai mati,&lt;br /&gt;manipulatif, cuek, serta tidak mengenal apa yang baik dan buruk. Dan&lt;br /&gt;hal tersebut terjadi di semua lapisan masyarakat. Satu bait ramalan&lt;br /&gt;Jayabaya, "sungguh zaman sedang gonjang-ganjing, menyaksikan zaman&lt;br /&gt;gila, tidak ikut gila tidak dapat bagian", bisa jadi menggambarkan&lt;br /&gt;keadaan bangsa kita saat ini: kalau tidak ikut gila, kita tidak&lt;br /&gt;kebagian. Kalau memang demikian halnya, sungguh malang negara ini.&lt;br /&gt;Jelas ada sesuatu yang salah di negeri ini, tapi dari mana kita&lt;br /&gt;hendak memulai mengurai benang kusut ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak usah lagi mengurusi hal-hal remeh-temeh. Banyak persoalan besar&lt;br /&gt;yang perlu diselesaikan di negeri ini: bencana lumpur Lapindo,&lt;br /&gt;potensi pandemi flu burung, berbagai peraturan daerah yang tumpang-&lt;br /&gt;tindih, lemahnya daya tarik investasi asing, krisis energi yang&lt;br /&gt;berimpak pada ketahanan nasional, reformasi birokrasi yang belum&lt;br /&gt;menyentuh lembaga yudikatif, dan segepok masalah besar lain yang&lt;br /&gt;masih menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Presiden Yudhoyono berjanji tak akan lagi melakukan kompromi&lt;br /&gt;dalam mengambil keputusan yang menyangkut rakyat. Berbagai masalah&lt;br /&gt;yang merundung negara ini memang membutuhkan tindakan cepat, tegas,&lt;br /&gt;dan nyata--seperti dijanjikan Presiden dalam pidato sambutannya pada&lt;br /&gt;acara ulang tahun ke-69 kantor berita Antara. Dalam konteks ini,&lt;br /&gt;sudah sewajarnya jika Presiden bertindak cepat sehingga bisa&lt;br /&gt;mengundang komentar, "Wah, gile bener, Presiden sudah bongkar&lt;br /&gt;kabinet, tak ada kompromi lagi rupanya dengan parpol," atau mungkin&lt;br /&gt;komentar lain yang tidak kalah gilanya: "Gila benar, kapan SBY ada&lt;br /&gt;waktu istirahat kalau sampai akhir pekan pun masih mengurus tugas&lt;br /&gt;negara."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Francis Fukuyama dalam bukunya, Trust, mengingatkan kita, langkah apa&lt;br /&gt;pun tak akan cukup untuk menyelesaikan masalah suatu bangsa tanpa&lt;br /&gt;adanya trust, jaminan rasa aman. Sesungguhnya yang diperlukan saat&lt;br /&gt;ini adalah kerelaan para pemimpin dan elite untuk saling mendengar,&lt;br /&gt;mengakhiri perdebatan, dan mencari jalan keluar terbaik buat&lt;br /&gt;menyelamatkan bangsa dari kehancuran. Para pemimpin harus duduk&lt;br /&gt;bersama dan mendengarkan aspirasi masyarakat. Dan yang tak kalah&lt;br /&gt;penting, pemimpin haruslah memberi contoh teladan yang baik bagi&lt;br /&gt;rakyatnya. Panutan harus dimulai dari atas. Tanpa itu semua, jangan&lt;br /&gt;harap bangsa ini keluar dari situasi gila seperti saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Gila! oleh Sonny Wibisono (Koran Tempo - Sabtu, 27 Januari&lt;br /&gt;2007)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38785947-117031720322659428?l=renungan-kita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/117031720322659428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38785947/posts/default/117031720322659428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-kita.blogspot.com/2007/02/gila.html' title='Gila !!'/><author><name>xblog live</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16999997237493004088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_eADHIxlrLzQ/RcQmnUZAuPI/AAAAAAAAAB0/kB58GFvWoBo/s72-c/monyet.jpg' height='72' width='72'/></entry></feed>
